-->

Breaking

logo

September 11, 2020

Airlangga Sebut Anies Baswedan Biang Kerok Anjloknya IHSG, Rizal Ramli: Jangan Suudzon dann Cetek

Airlangga Sebut Anies Baswedan Biang Kerok Anjloknya IHSG, Rizal Ramli: Jangan Suudzon dann Cetek

NUSAWARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut Kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebabkan oleh kebijakan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan, yang akan menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai Senin (14/9/2020).

“Hari ini indeks (IHSG) masih ada ketidakpastian karena announcement Gubernur DKI (Anies Baswedan) tadi malam, sehingga indeks tadi pagi sudah di bawah 5000,” ucap Airlangga dalam Rakornas Kadin, Kamis (10/9/2020).

IHSG pada perdagangan sesi pertama Kamis (10/9/20) terkapar di zona merah setelah ambles 4,88% ke level 4.898,11 setelah sebelumnya perdagangan sempat dihentikan oleh bursa karena anjlok lebih dari 5%.

Menanggapi hal itu, ekonom Rizal Ramly meminta Airlangga agar tidak mengaitkan jatuhnya bursa saham dengan penerapan PSBB di DKI Jakarta.

“Bung Airlangga jangan suudzon dan cetek. Jangan asal kaitkan PSBB dengan jatuhnya bursa,” kata Rizal Ramil di akun Twitternya, Kamis malam (10/9).

Rizal mengatakan, bukan hanya Indonesia, bursa saham Amerika Serikat pun jatuh.

Selain itu, investor asing terus melakukan aksi jual bersih hingga Rp1 triliun per hari lantaran khawatir dengan indepensi Bank Indonesia (BI) yang terancam diintervensi pemerintah.

“Asing sudah keluar karena isu dewan moneter ancam independesi BI. Sudah Rp 4 triliun dan Rp1 triliun per hari,” kata Rizal.

Penyebab lainnya, kata Rizal, dana buyback saham sudah mulai habis. Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab IHSG anjlok.

Diketahui, para investor asing terus melakukan aksi jual bersih. Aliran hot money secara harian sempat menyentuh angka hampir Rp 1 triliun.

Menambah daftar panjang derasnya dana asing yang keluar bursa, jika ditarik data satu tahun terakhir, aksi jual asing di pasar saham mencapai Rp 45,7 triliun.

Sejumlah dinamika menjadi sentimen keluarnya dana asing, terutama penangulangan pandemi corona yang cenderung kurang dipercaya pelaku pasar, lalu rencana ‘amputasi’ independen di Bank Indonesia (BI), sampai rasio kredit bermasalah di mayoritas bank besar di Indonesia.

Investor masih mencermati penanganan corona di Indonesia. Jika belum juga meyakinkan, dana asing masih berpotensi keluar dari pasar saham. [pjst]