-->

Breaking

logo

September 16, 2020

Alfin Andrian Malingering?

Alfin Andrian Malingering?

NUSAWARTA - Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel ikut angkat bicara terkait Alfin Andrian, pelaku penusukan Syekh Ali Jaber di Bandarlampung, Minggu (13/9) lalu.

Ada sejumlah analisis yang disampaikan Reza terkait polemik kejiwaan pemuda 24 tahun itu.

Salah satu yang disorotinya adalah keterangan yang menyatakan bahwa Alfin Andrian mengalami gangguan jiwa alias gila.

Keterangan itu disampaikan orangtua Alfin yang menyebut bahwa anaknya mengalami gangguan jiwa karena ditinggal ibunya bekerja sebagai TKW sejak beberapa tahun lalu.

“Si penusuk dikabarkan mengidap gangguan jiwa. Benar-benar sakit atau pura-pura sakit (malingering)?” ujarnya, Rabu (16/9).

Ia menjelaskan, malingering sering dijadikan modus pelaku kejahatan atau orang yang berurusan dengan hukum.

Tujuannya, sambung alumnus Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, tidak lain untuk mengelabui hukum maupun publik.

Malingering adalah pengakuan seseorang yang menyatakan dirinya sakit padahal sehat.

Jika memang Alfian mengidap gangguan jiwa, tegasnya, harus jelas kriterianya penyakitnya sehingga dia dapat dimaafkan di depan hukum.

“Gangguan jiwa tipe apa? Apakah termasuk tipe yang mendapat pemaafan hukum?” jelasnya,

Peraih gelar MCrim (Forpsych, master psikologi forensik) dari Universitas of Melbourne ini justru menyinggung ancaman pidana untuk keluarga pelaku.

“Pihak yang bertanggung jawab menjaga orang sakit jiwa, tapi lalai, sehingga orang sakit jiwa tersebut membahayakan orang lain, bisa dikenai pidana,” tegasnya.

Karena itu, Reza berharap proses hukum terhadap pelaku penusukan Syekh Ali Jaber tetap dijalankan sampai ada putusan dari hakim di pengadilan.

Tidak seperti kasus-kasus serupa sebelumnya.

“Apa kabar para pelaku penyerangan pemuka agama pada kejadian-kejadian terdahulu, yang disebut juga mengidap gangguan jiwa? Mereka dirawat?” tanya dia.

Dia menambahkan bahwa hakim dapat memerintahkan agar pelaku semacam itu dirawat di RS jiwa.

Tetapi jika kasusnya buru-buru disetop di tingkat penyelidikan, maka perintah hakim tersebut tidak akan pernah ada.