-->

Breaking

logo

September 14, 2020

Alfin Andrian Resmi Tersangka, Kok Ancaman Hukuman Cuma Segini?

Alfin Andrian Resmi Tersangka, Kok Ancaman Hukuman Cuma Segini?

NUSAWARTA - Alfin Andrian, pelaku penusukan Syekh Ali Jaber resmi ditetapkan sebagai tersangka setelah dilakukan pemeriksaan sejak Minggu (13/9) malam.

Hal itu dibenarkan Kapolresta Bandarlampung, Kombes Yan Budi Jaya kepada Radarlampung.com, Senin (14/9/2020).

“Statusnya kita tetapkan sebagai tersangka. Karena sudah mendekati 24 jam, dari pemeriksaan semalam,” ungkapnya.

Sampai saat ini, pihaknya juga masih menunggu tim dari Mabes Polri untuk memastikan kejiwaan Alfin Andrian.

“Semalam sudah kita datangkan psikiater dari RSJ Lampung. Tapi baru diagnosa awal,” katanya.

“Itu masih kita dalami. Masih menunggu dari Mabes Polri,” jelas Yan Budi.

Saat ini, kasus penusukan terhadap ulama itu ditangani penyidik Polresta Bandarlampung.

“Kita tetap berproses dengan prosedur. Karena itu kan (pemeriksaan kejiwaan, Tes), hanya untuk membuktikan dia ini benar atau tidak mengidap gangguan jiwa.”

“Kalau ada kartu kuning, bisa dipastikan dia mengalami gangguan jiwa,” ujarnya.

Yan Budi menjelaskan, pihaknya tidak berwenang untuk menentukan apakah pelaku mengalami gangguan jiwa atau tidak.

Hal itu, ujarnya, akan ditentukan majelis hakim dalam persidangan.

“Itu persidangan yang menentukan. Kalau menurut hakim nanti memang mengalami gangguan jiwa, ya itu kewenangan hakim,” jelasnya.

“Kita tetap memproses kasus 351-nya (penganiayaan, Red),” tegasnya.

Dengan pasal tersebut, Alfin Andrian tercanam hukuman penjara selama lima tahun.

Sementara, Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia (UI) Prof Jimly Asshiddiqie menyebut pelaku penusukan Sykeh Ali Jaber bisa dipidana.

Karena itu, ia menyarankan pihak kepolisian dan kejaksaan secepatnya menangani kasus ini.

Demikian disampaikan anggota DPD RI itu melalui akun Twitter pribadinya, Senin (14/9/2020).

“Saya sarankan polisi dan jaksa cepat saja memproses penuntutannya,” tulisnya.

Menurut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini, polisi sudah cukup memiliki bukti.

Bahkan, Prof Jimly menyatakan bahwa pelaku bisa dipidana dengan pembunuhan berencana dan terorisme.

“Karena tertangkap tangan, segala buktinya sudah cukup untuk dituntut delik pembunuhan berencana dan terorisme dengan sanksi maksimal saja,” ungkapnya.

Malah, Prof Jimly menyarankan agar pelaku bila perlu dihukum mati.

Kendati demikian, sebaiknya keputusan itu diserahkan kepada majelis hakim di persidangan.

“Bila perlu pidana mati. Soal penilaian biar hakim yang memutus,” tandasnya. [pjst]