-->

Breaking

logo

September 7, 2020

Apa Alasan Felix Siauw Dicap Sebagai Ustad Paling Radikal No 2? Karena Good Looking?

Apa Alasan Felix Siauw Dicap Sebagai Ustad Paling Radikal No 2? Karena Good Looking?

NUSAWARTA - Ustad Felix Siauw merespons pernyataan Menteri Agama, Fachrul Razi yang menyebut radikalisme masuk masjid melalui anak good looking.

Dalam akun Instagramnya, ia menjawab 4 tuduhan pola radikalisme masuk masjid. Yang pertama, penguasa mengesankan seolah-olah masalah dan ancaman terbesar bagi Indonesia adalah radikalisme, sehingga untuk de-radikalisasi, harus dilakukan apapun juga, termasuk 3-4 menteri yang khusus diangkat untuk de-radikalisasi, salah satunya Menteri Agama.

Sambungnya, sejak awal 2017, di Masjid Gede Kauman Jogja Felix sudah menyampaikan bahwa dia curiga program de-radikalisasi dari penguasa sebenarnya adalah de-islamisasi.

“Kenapa? Sebab semua program De-Radikalisasi ini hanya tertuju kaum Muslim, terutama yang disebut “Barisan 212?, atau Muslim yang selama ini punya pandangan berbeda dengan mereka,” kata Felix, Senin (7/9/2020).

Kemudian yang kedua, penguasa menjadikan radikalisme sebagai threat, ancaman, ketakutan, lalu menjual “obat” dari radikalisme itu, seolah jadi pahlawan, padahal sangat sarat kepentingan.

Seperti, menuduh PTN radikal, membesar-besarkan di media, lalu mengganti rektor, menghapus pogram kaderisasi masjid, dan diberikan kepada siapapun pendukungnya, agar tak ada kritik.

Sambungnya, dalam kasus radikalis good-looking, ia menilai Menag jelas menawarkan solusi, agar pengurus masjid itu dari pemerintah, agar bisa kendalikan aktivitas masjid. Persis seperti di Cina.

Ketiga, ia pun mempertanyakan apa indikasi radikalisme itu? Standarnya apa? sehingga dia dicap sebagai uztad radikal nomor 2 di Indonesia.

“Lucu kan ketika salah satu lembaga survei menjadikan saya ustadz no. 2 paling radikal? Apa ukuran radikal? Kalah ganteng? Kalah pinter?,” cetus dia.

Ia juga menjelaskan bagi Fir’aun, Musa itu radikal habis. Bagi peradaban jahil, Islam itu mengubah secara radikal blas.

“Ukuran radikal apa? Kasitau dong? Dan jangan jadi bola liar, ditentuin seenak-enaknya,” katanya.

Terakhir, ada banyak masalah yang lebih ngeri dari “so-called radicalism”. Pesta sex sejenis, kemesuman di kanal-kanal sosial-media, ekonomi merosot tidak karuan. Hal itu menurutnya jauh lebih penting untuk ditangani.

“Jadi radikal ini sepertinya cuma cara untuk membungkam siapapun yang berseberangan dengan penguasa, agar semua diam terhadap kedzaliman,” sebutnya.

“Nggak mau taat terserahlah, tapi jangan tuduh yang mau taat itu radikal. Nggak hafidz nggak dosa, gak good looking gapapa. Tapi curigain good-looking yang demen ke masjid. Itu jahad pak,” tukasnya. [wrte]