-->

Breaking

logo

September 11, 2020

Buku 'Man of Contradictions' Berisi Sindiran Kegagalan Proyek Infrastruktur Jokowi di Bitung

Buku 'Man of Contradictions' Berisi Sindiran Kegagalan Proyek Infrastruktur Jokowi di Bitung

NUSAWARTA - Kritik tajam dilancarkan peneliti dari Lowy Institute, Australia, Benjamin "Ben" Bland terhadap Presiden Joko Widodo melalui sebuah buku berjudul “Man of Contradictions: Joko Widodo and the Struggle to Remake Indonesia”.

Salah satu sorotan tajamnya tertuju pada proyek infrastruktur hingar bingar Jokowi di Bitung, Sulawesi Utara, yang diresmikan pada bulan April 2017.

Proyek ini adalah rute kapal feri baru antara Pelabuhan Bitung dan Davao, Filipina sejauh 500 kilometer. Presiden Jokowi dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte meresmikan langsung proyek ini.

Rute ini sudah dibahas selama bertahun-tahun, dengan banyak studi yang didanai oleh lembaga bantuan asing. Negara-negara ASEAN bahkan menyorotinya sebagai proyek penting.

Idenya adalah untuk meningkatkan perdagangan dengan memotong waktu pengiriman antara dua kota pelabuhan yang ramai dari hari ke jam, dengan lalu lintas tidak lagi dialihkan melalui Jakarta dan Manila yang jauh.

Dalam bukunya, Ben Bland menggambarkan suasana kebanggaan kedua pemimpin negara saat feri pertama memulai perjalanan.

Duterte dengan bangga menyebutnya sebagai 'tonggak sejarah'. Sementara Jokowi menilai proyek ini sebagai bukti nyata rencananya untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Namun demikian harapan itu ternyata tidak semanis di awal. Ben Bland mengaku sudah melakukan perjalanan langsung ke Bitung, Sulawesi Utara untuk meninjau keberlanjutan program tersebut.

Hasilnya, feri yang dibanggakan perpal. Tidak ada aktivitas perjalanan sebagaimana yang diharapkan oleh kedua kepala negara tersebut.

Kapal MV Super Shuttle Roro 12 milik Asian Marine Transportation Corporation memang telah berhenti beroperasi hanya 5 bulan setelah pelayaran perdananya. Ini karena pihak kapal tidak tahu harus mengangkut apa. Aktivitas pengapalan lesu karena barang yang dihasilkan Sulawesi Utara maupun Mindanao relatif sama yaitu kelapa.

Sementara pejabat dan pengusaha lokal mengatakan bahwa Kementerian Perdagangan Indonesia enggan membuka Sulawesi Utara untuk bersaing dengan Filipina, dan membatasi produk yang dapat diimpor melalui jalur tersebut.

Bagi Ben Bland, fakta ini semakin memperkuat apa yang hendak disampaikan dalam bukunya. Di mana Jokowi disebut sebagai manusia kontradiksi.

Jokowi disebut gagal menyusun rencana dengan masyarakat setempat tentang bagaimana membuat aktivitas feri bisa berkelanjutan.

Jadi, dengan hampir tidak ada pelanggan dan tidak ada dukungan pemerintah, pemilik kapal telah membatalkan rute.

Kata Ben Bland, beritikad baik tetapi dieksekusi dengan buruk adalah metafora dari cara pemerintahan Jokowi mengelola perekonomian.  [rmol]