-->

Breaking

logo

September 15, 2020

Cerita Ruhut Sitompul Bujuk Jokowi Demi Menyenangkan SBY

Cerita Ruhut Sitompul Bujuk Jokowi Demi Menyenangkan SBY

NUSAWARTA - Ruhut Sitompul blak-blakan menceritakan proses Presiden Joko Widodo (Jokowi) tiba-tiba bisa hadir dalam Kongres IV Partai Demokrat di Hotel Shangri-La Surabaya, 12 Mei 2015 malam?

Itu karena peran Ruhut Sitompul. Momentum itu terjadi saat pria bernama lengkap Ruhut Poltak Sitompul masih menjadi juru bicara Partai Demokrat.

Bagaimana ceritanya Ruhut berhasil merayu Presiden Jokowi hingga bela-belain terbang dari Port Moresby, Papua Nugini ke Surabaya?

Hal ini diungkap Ruhut dalam program NGOMPOL (Ngomongin Politik) yang tayang di channel YouTube JPNN.com, Senin (14/9).

Menurut Ruhut yang kini kader PDI Perjuangan, hal itu tidak terlepas dari perannya sebagai anggota Bravo Lima -kelompok relawan pendukung Jokowi yang kini sudah berubah menjadi ormas.

Tim ini didirikan Luhut Binsar Panjaitan bersama sejumlah pernawirawan TNI. Kini ketuanya Jenderal (Purn) TNI Fachrul Razi yang juga menteri agama.

“Pak Jokowi itu memang negarawan besar ya. Tidak ada dusta di antara kita dan itu yang ada di hati dia.”

Dan enggak ada lho dia sama siapa pun, tidak ada dendam enggak ada apa. Itu yang saya salut. Mungkin aku saja enggak bisa begitu,” kata Ruhut mengawali ceritanya.

Dia cerita saat dihubungi Luhut, setelah Luhut bicara empat mata dengan Jokowi.

“Satu ketika, saya dihubungi oleh Pak Luhut. Dik, kau di mana? Saya masih kerja Bang, kan belum serah terima DPR. Bisa nanti siang makan siang dengan Abang? Oh, boleh, ada apa? Taunya, kau hebat kali Dik, semalam enggak merasa gimana. Kenapa? Kami ngobrol berdua lho (Luhut dan Jokowi, red), yang kami bahas itu kau. Wah, hebat kali aku Bang,” Ruhut melanjutkan cerita bagaimana awal mula dia dibawa masuk ke Bravo Lima.

Saat pertemuan tersebut, Luhut yang masa itu menjabat Kepala Kantor staf Presiden (KSP) membujuk Ruhut agar jangan ikut-ikutan netral di Pilpres 2014 sebagaimana sikap SBY waktu itu. Luhut meminta Ruhut memihak.

“Pak SBY kita hormati dia netral, kau sebagai juru bicaranya juga ikut-ikutan kau netral. Sudahlah, kau memihak saja, mau enggak kau jadi tim suksesnya Pak Jokowi. Dibilang begitu (sama Luhut, red), Itu saya bilang, saya kalau dibegitukan terenyuh itu,” kata Ruhut.

Singkat cerita, Ruhut meminta waktu untuk meminta izin kepada SBY sebagai ketumnya di Demokrat.

“Oke, tapi saya pamit dulu sama Pak SBY. Ya pamitlah, aku pamit. Pak SBY juga kaget. Saya masih ingat pembicaraannya. Oh begitu, tapi Pak Ruhut, kata Pak SBY, Pak Prabowo, Pak Hatta Rajasa, surveinya di atas 60 (persen) lho, Pak Jokowi masih 30-an (persen),” tutur Ruhut menceritakan komunikasinya dengan SBY.

“Saya punya jawaban apa? Ini bicara hati Pak, hati saya mengatakan nanti yang menang Jokowi,” tukas Ruhut menjawab SBY.

Pesta demokrasi pun dimulai. Ruhut ikut berkecimpung mengampanyekan Jokowi-Jusuf Kalla.

Hal itu membuat koleganya di Partai Demokrat gerah dan meminta SBY memecatnya dari partai.

Namun Ruhut berterima kasih kepada SBY yang tidak main pecat meski mereka punya sikap politik yang berbeda di Pilpres 2014.

“Itu memang saya terima kasih. Pak SBY itu aku enggak bisa lupakan beliau,” ungkap Ruhut.

Sebab, ketika kader Demokrat di DPR maupun DPP mendesak SBY memecat mantan politikus Golkar itu, Presiden keenam RI itu tidak langsung menyetujuinya.

“Mereka kumpul tanda tangan, kasih, tetapi Pak SBY waktu mereka datang menghadap. (Bilang) sudahlah, kita tunggu saja dulu hasilnya. Itulah, dan tahunya memang (Jokowi-JK) menang. Pak SBY sangat demokratis, dia tanya ini bagaimana mengenai Ruhut? Semua diam. Sudahlah, dia kan memang kader kita. Itu pertama,” tutur Ruhut.

Ceritanya berlanjut ke Kongres IV Partai Demokrat di Surabaya, untuk menjadikan SBY sebagai ketua umum.

Di momentum inilah Ruhut memainkan peran membujuk Jokowi yang sudah menjadi presiden agar mau datang ke forum musyawarah tertinggi partainya itu.

Ruhut memastikan upayanya membujuk Jokowi itu bukan atas perintah SBY.

Namun itu inisiatif pribadinya demi menyenangkan SBY, Presiden RI dua periode itu.

“Aku ini hidup di lingkungan orang Jawa. Jadi orang Jawa itu selalu bahasa tubuh. Enggak pernah mau memerintah, menyuruh, pengertian kita,” ucap Ruhut.

Singkatnya, inisiatifnya membujuk Jokowi dilakukan Ruhut setelah melihat ada keinginan dari SBY agar Jokowi hadir di Kongres IV Demokrat itu.

“Jadi, saya, kami duluan datang. Pak SBY, (Almarhumah) Bu Ani, Almarhum Pak Pramono Edhie dan saya. Sambil persiapan di Shangri-La, ngobrol-ngobrol tahunya… bapak itu enggak suruh saya, dia cuma bilang; aduh gimana ya, Pak Jokowi enggak bisa datang. Presiden nanti diwakili Pak Jusuf Kalla,” ungkap Ruhut.

“Inisiatif saya lah. Rupanya bapak ini kepengin Pak Jokowi datang. Karena ada keluar omongan dia dulu, kalau dia datang, saya akan kasih panggung buat dia. Saya hanya bicara sebentar sudah itu kasih ke Pak Jokowi,” lanjut Ruhut.

Untuk membujuk Jokowi, awalnya Ruhut menelepon Kepala KSP Luhut Binsar Panjaitan yang ada di Jakarta.

Kemudian Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijanto yang ikut dalam rombongan presiden ke Papua Nugini.

“Saya kan dekat dengan Pak Jokowi, tapi saya toto kromo lah. Saya hubungi Pak Luhut dulu, Pak Luhut bilang beliau sudah di Merauke. Mau ke Papua Nugini. Saya hubungi lagi Menko Polhukam Pak Tedjo, wah enggak bisa. Beliau ikut dalam rombongan. Pak Luhut enggak ikut. Wah enggak bisa bang, gini gini gini,” jelas Ruhut.

Akhirnya Jokowi datang juga ke Kongres Demokrat, 12 Mei 2015 itu.

Dia sendiri yang membuka cerita bagaimana “diteror” oleh Ruhut agar bisa hadir meski sedang kunjungan ke ke Papua Nugini.

Dalam pidatonya di Kongres IV itu, mantan Wali Kota Solo itu juga meminta SBY memberikan penghargaan kepada Ruhut karena berjasa menghadirkannya di forum tersebut.

“Mohon Pak Ruhut diberi penghargaan, beliau telepon saya tiga kali, di Jayapura, Merauke, Papua Nugini. Ditambah sms sekali,” ungkap Jokowi di hadapan ribuan kader Demokrat pada malam itu.

Jokowi bahkan sempat mengungkapkan isi pesan singkat Ruhut kepada dirinya di hadapan SBY dan ribuan kader Demokrat.

“Kurang lebih (SMS Ruhut) begini; maafkan aku Bapak presiden, sebagai pendukung setiamu, mohon Bapak hadir di Kongres IV Demokrat,” tutur mantan gubernur DKI Jakarta itu. [psid]