-->

Breaking

logo

September 7, 2020

Ditanya Apakah Pernah Ditegur Presiden, Pak Menag: Tidak Pernah!

Ditanya Apakah Pernah Ditegur Presiden, Pak Menag: Tidak Pernah!

NUSAWARTA - Pernyataan Menteri Agama Fachrul Razi soal kelompok radikal biasanya menyusup menggunakan agen yang good looking dan hafiz jadi polemik panjang. Banyak pihak menghujat dan menyerang habis-habisan. Menjawab semua serangan itu, Fachrul menyampaikan klarifikasi. Mantan Wakil Panglima TNI itu memastikan, tidak berniat sama sekali melecehkan sosok good looking ataupun hafiz. 

Pernyataan Fachrul soal good looking dan hafiz itu meluncur dalam webinar bertajuk 'Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara', yang disiarkan di YouTube KemenPAN-RB, Rabu (2/9). “Itu acara internal ASN. Programnya Menteri PAN-RB. Judulnya, ASN No Radikal. Ngundang beberapa narasumber untuk memberikan arahan kepada ASN, salah satunya Menteri Agama," tutur Fachrul, saat dihubungi Rakyat Merdeka, tadi malam.

Dalam acara tersebut, kata Fachrul, dirinya menerangkan sejumlah hal yang harus diwaspadai paham radikal di kalangan ASN. Pertama, saat rekrutmen. Kedua, saat pendidikan lanjutan. Ketiga, di rumah ibadah. 

Terkait rumah ibadah di kantor-kantor pemerintahan, Fachrul mengimbau para pengurusnya harus ASN. Karena, apabila dipegang orang luar, sulit dikontrol. Khawatir terjadi penyusupan paham radikal. Mengingat paham seperti ini bisa masuk lewat mana saja.

Dia mencontohkan, di Masjid Kementerian Agama (Kemenag), dilakukan ceramah rutin. Awalnya, ceramah itu diadakan setelah Dzuhur, setelah Salat Jumat, dan setelah Salat Ashar. Untuk yang setelah Ashar, Fachrul melarang. Sebab, saat itu, para ASN di Kemenag sudah pulang. Kalau tetap diadakan, cemarah itu akan diikuti orang-orang dari luar.

Menurut Fachrul, waktu tersebut harus diwaspadai. Sebab, pola penyebaran paham radikal biasanya seperti itu. Mereka masuk dulu satu dua orang yang good looking dan punya pengetahuan cukup tentang agama. Setelah diterima di lingkungan masjid, pelan-pelan ngomongnya mulai agak radikal. Setelah itu mereka mulai membawa teman-temannya masuk. “Nah, ini perlu diwaspadai oleh ASN. Sekali lagi saya sampaikan, ini di internal ASN," tegasnya. 

Fachrul berharap, semestinya tak ada yang tersinggung ketika dirinya berpesan waspada kepada ASN. Pola menggunakan sosok good looking, lanjutnya, sebenarnya juga biasa dilakukan di dunia intelijen. Intelijen biasanya memasukkan orang-orang berpenampilan menarik ke elite tertentu untuk menggali informasi.

“Sama seperti orang yang berpenampilan menarik dimasukkan intelijen ke dalam pergaulan elite. Dengan pernyataan itu, saya pikir tidak ada yang berpenampilan menarik, berpengetahuan luas tersinggung,” ucapnya.

Fachrul juga heran kepada pihak-pihak yang mengomentari aneh-aneh. "Kembali, lagi, itu acara internal ASN. Kalau sampai keluar, harusnya nggak usah dipersoalkan, kan acara internal. Harusnya, orang nggak usah tersinggung dong. Ini masjid yang saya maksud di lingkungan pemerintahan," tegasnya.

Gara-gara persoalan ini, ada yang bilang Fachrul cuma fokus ngurusin paham radikal. Mendapati anggapan seperti itu, Fachrul lantas menyebutkan ratusan pekerjaannya. Seperti ngurus ribuan pesantren, madrasah, sampai perguruan tinggi. Hal-hal semacam itu pun tak luput dari tupoksinya. "Paham radikal itu cuma seperseribu dari tugas saya," selorohnya.

Apakah pernah ditegur Presiden atau Wakil Presiden gara-gara pernyataannya yang bikin gaduh? Fachrul menjawab, tidak pernah. "Dari awal, arahan beliau (Presiden Jokowi) ke saya, selama Pak Fachrul melihat itu masih dalam tupoksi, lakukan. Menurut saya, nggak ada yang salah," katanya, santai.

Dia mengaku tak alergi terhadap kritik. Namun, kritik yang diarahkan ke dirinya harus kritik membangun dan tepat sasaran. Jangan semua dikomentari. Fachrul mencontohkan, apabila dirinya sedang memberi nasihat ke keluarganya, orang lain tak boleh protes.

“Kalau kritik bagus, saya terima dengan senang hati. Tapi, perlu juga saya luruskan, biar jangan salah. Itu kan keluarga di lingkungan ASN. Temanya juga ASN No Radikal. Kalau no radikal, mewaspadai dong potensi radikal. Kalau itu diangkat, ya salah dong yang ngangkat," tukasnya. [rmco]