-->

Breaking

logo

September 3, 2020

Faisal Bahri Sebut Masuknya Smelter China Akan Merusak Keuangan Indonesia, Ini Penyebabnya

Faisal Bahri Sebut Masuknya Smelter China Akan Merusak Keuangan Indonesia, Ini Penyebabnya

NUSAWARTA - Nilai tambah dan pemasukan negara dari pertambangan di Indonesia mendapat sorotan tajam. Pasalnya, kebijakan peningkatan nilai tambah dari pertambangan masih belum begitu ketat dari segi perpajakan.

Alhasil pemasukan dan penerimaan ke negara dari industri tambang dan lainnya masih kecil.

“Jadi ini yang harus kita dorong terkait reformasi perpajakan, saya jamin 99,99 persen kita bisa dapat puluhan triliun dari industri nikel dan tambang, bahkan timah dan tembaga,” kata ekonom UI Faisal Basri dalam konferensi daring, Kamis (3/9).

Dijelaskan, di Indonesia sendiri, perusahaan tambang lokal diwajibkan membayar bea ekspor dan royalti, tetapi untuk pengusaha smelter tidak dikenakan.

Sebab, pengusaha smelter melihat peluang yang sangat besar di Indonesia dengan peraturan dan pengawasan yang tidak ketat. Sehingga, harga nikel di internasional 40 dolar AS per ton  sedangkan di Indonesia cuma 20 dolar AS per ton.

"Sehingga banyak perusahaan smelter dari China bisa break event point (BEP) hanya dalam tiga tahun, mereka sudah sangat untung," kata Faisal.

Tidak hanya itu, Faisal juga mengkritisi, smelter China bisa mendapatkan bahan baku berupa bijih atau ore nikel dengan harga yang sangat murah. Sehingga perusahaan asal China lebih banyak mengantongi keuntungan jika membangun smelter di Indonesia ketimbang di negaranya.

Seperti dilansir kontan.co.id, keuntungan yang sudah besar itu juga tidak dikenakan berbagai pajak seperti PPN (Pajak Pertambahan Nilai), bea masuk barang modal seperti mesin, pekerja yang didatangkan dari China juga memakai visa turis bukan visa pekerja, kemudian terbebaskan dari PPh (Pajak Penghasilan) perseorangan hingga iuran asing.

"Jadi jebol keuangan negara di Indonesia akibat smelter China yang masuk ke Indonesia. Sebab disini tidak dikenakan biaya apa pun," tambahnya.

Sehingga, menurutnya hilirisasi tambang di Indonesia justru malah menopang Industri negara lain seperti di China. Sebab dengan smelter China yang berada di Indonesia bisa mengantongi seluruh laba tanpa membayar berbagai pajak seperti pajak badan karena mendapat tax holiday hingga 25 tahun.

"Harga tambang yang dibeli perusahaan smelter sangat murah di Indonesia, sehingga laba lebih besar dibandingkan dengan di negara asal, karena itu perusahaan asing berbondong-bondong masuk ke negara kita," tutupnya. [bzlw]