-->

Breaking

logo

September 6, 2020

Hanya Gara-gara Lagu Mahraganat, Sopir Bajaj Harus Meregang Nyawa di Tangan Qori Al-Qur'an

Hanya Gara-gara Lagu Mahraganat, Sopir Bajaj Harus Meregang Nyawa di Tangan Qori Al-Qur'an

NUSAWARTA - Seorang pengemudi bajaj menemui ajal di tangan seorang qari Alquran. Insiden langka ini terjadi di Provinsi Qalyubiya, sebelah utara Kairo.

Pengendara tersebut diduga memutar musik dengan suara keras. Dia memainkan lagu-lagu mahraganat di depan rumah seorang warga.

Lagu-lagu terkenal biasanya menyertakan lirik yang membahas politik, seks, dan kehidupan sehari-hari para pemuda yang tinggal di daerah kumuh Kairo yang eksplisit dan tidak pernah mewakili musik arus utama Mesir.

Direktur Keamanan di Qalyubia, Mayor Jenderal Fakhr El Din Al Arabi menerima laporan bahwa telah terjadi pertengkaran antara pengemudi tuk-tuk dan seorang qari Alquran.

Pengemudi tuk-tuk masih remaja, 19 tahun. Sementara sang qari Al-Qur'an berusia 27 tahun. Dia sempat meminta pengemudi tuk-tuk agar menurunkan volume suara musiknya.

Sopir itu diduga menolak untuk memenuhi permintaan qari muda itu. Qari itu lalu mengambil gunting dari rumahnya dan menikam bagian dada pengemudi itu hingga tewas di tempat.

Jaksa penuntut memerintahkan agar qari ditahan sambil menunggu penyelidikan dan persidangan lebih lanjut. Autopsi sudah dilakukan pada tubuh korban.

Hany Shaker, kepala Sindikat Musisi Mesir, mengatakan lagu mahraganat lebih berbahaya daripada obat-obatan. Lagu jenis ini sama sekali tidak sesuai untuk Mesir dan sejarah artistiknya.

Shaker menambahkan, lagu-lagu ini adalah bencana besar yang tidak sesuai dengan Mesir dan seninya atau era indah di bawah Presiden Abdel Fattah Al Sisi.

"Lagu-lagu ini berbahaya bagi anak-anak dan remaja," katanya seperti dikutip dari Gulf News, Minggu (6/9/2020).

Shaker telah mengeluarkan keputusan yang melarang semua penyanyi mahraganat (folk elektronik) tampil di festival, klub, kafe, atau konser lainnya.

“Musisi Mahraganat tidak akan lagi bekerja di Mesir. Mereka tidak akan dapat memperoleh lisensi untuk tampil di mana pun," lanjutnya.

"Jenis musik ini didasarkan pada lirik promiscuous dan tidak bermoral, yang sepenuhnya dilarang, dan karena itu, pintunya ditutup. Kami ingin seni yang nyata," jelas dia.

Shaker mengatakan larangan itu berlaku untuk semua penyanyi mahraganat. Termasuk duo populer 'Oka Wi Ortega', karena jenis genre ini tidak tidak mewakili Mesir.

Keputusan itu diambil setelah insiden saat konser Hari Valentine yang diadakan di Stadion Kairo, di mana Hassan Shakoush menyanyikan lirik "Saya Minum Alkohol dan Merokok Ganja", yang dianggap melanggar prinsip-prinsip masyarakat Mesir.

Dalam siaran pers, Sindikat Musik Mesir memperingatkan semua klub malam, fasilitas wisata, perahu Nil, dan kafe bahwa keterlibatan apa pun dengan artis mahraganat akan menghasilkan tindakan hukum.

Mahraganat diketahui berasal dari daerah kumuh Kairo sekitar 2006-7, di mana DJ pernikahan mulai menggabungkan musik rakyat dan musik dansa elektronik dengan berbagai pengaruh dari reggae dan rap. [rkytk]