-->

Breaking

logo

September 10, 2020

Indonesia Tidak Ingin Terjebak Persaingan As-China Soal LCS

Indonesia Tidak Ingin Terjebak Persaingan As-China Soal LCS

NUSAWARTA - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memperingatkan Amerika Serikat dan China untuk tidak melibatkan Indonesia dalam persaingan regional mereka untuk mendapatkan pengaruh.

Pada Selasa (8/9), Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, kepala utusan diplomatik untuk negara terbesar di Asia Tenggara, menyatakan peringatannya kepada Amerika Serikat dan China.

“Kami tidak ingin terjebak dalam persaingan ini,” ujar Menteri Retno, merujuk pada persaingan regional kedua negara adidaya untuk mendapatkan pengaruh, dikutip dari kantor berita Reuters.

Aktivitas militer di Laut China Selatan telah meningkat tahun ini bersamaan dengan retorika permusuhan dan langkah kebijakan antagonis dari China dan Amerika Serikat. Itu telah meningkatkan kekhawatiran di antara beberapa negara Asia Tenggara atas risiko konflik bersenjata.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi telah meningkatkan diplomasi mereka di kawasan itu, dalam upaya untuk membujuk anggota ASEAN agar lebih bersimpati pada posisi mereka.

Menteri Retno menegaskan, ASEAN harus tetap netral dan bersatu.

China mengklaim sebagian besar Laut China Selatan sebagai wilayah kedaulatannya. Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Brunei memiliki klaim yang bersaing atas perairan yang kaya sumber daya tersebut.

Amerika Serikat tahun ini telah meningkatkan operasi kebebasan navigasi di perairan yang diklaim China tersebut. Negara itu mengerahkan dua kapal induk ke wilayah itu untuk pertama kalinya sejak 2014.

LATIHAN MILITER

Angkatan Laut China juga telah meningkatkan tempo latihan angkatan laut di perairan tersebut, termasuk menguji empat rudal balistik anti-kapal jarak menengah, yang dijuluki “pembunuh kapal induk”. Kapal-kapalnya, dan milisi maritim sekutu, juga mengganggu kapal-kapal nelayan Asia Tenggara di perairan yang disengketakan.

Dilansir dari Reuters, Retno mengungkapkan, meningkatnya militerisasi Laut China Selatan, dan permusuhan Amerika Serikat dan China secara umum, meresahkan.

Bulan lalu, pernyataan bersama oleh 10 menteri luar negeri anggota ASEAN menunjukkan bahwa negara-negara Asia Tenggara bersatu, berdedikasi untuk perdamaian, dan tidak memihak seiring hubungan antara Amerika Serikat dan China memburuk.

“(ASEAN memiliki) budaya yang bagus, tapi kita harus memupuknya,” ujar Retno, dinukil dari Reuters.

Dalam hal persaingan pengaruh di Laut China Selatan, AS dan China memang tak ada yang menunjukkan sikap mengalah. Yang terbaru, kapal induk AS USS Ronald Reagan mengerahkan pesawat udara untuk melindungi wilayah maritim sekutu negeri itu di perairan sengketa. Ini merupakan serangkaian operasi pertahanan udara maritim yang dilakukan sejak Agustus lalu.

“Satu-satunya kapal induk US Navy, USS Ronald Reagan, dikerahkan untuk melakukan operasi penerbangan saat beroperasi di Laut Filipina dan menyediakan pasukan siap tempur yang melindungi dan membela AS, dan kepentingan maritim sekutu serta mitra di wilayah tersebut,” cuit akun @USNavy pada Senin (7/9/2020), menambahkan tagar #FreeAndOpenIndoPacific, dikutip dari CNBC.

Sejumlah gambar juga ditunjukan Twitter resmi angkatan laut AS itu. Beberapa pesawat terlihat bersiap terbang di langit Laut China Selatan.

Sebaliknya, China juga sibuk unjuk gigi dengan memperlihatkan senjata terbarunya. Menurut laporan media pemerintah, Global Times, pesawat tempur KJ-500 yang pertama kali terlihat di latar belakang sebuah foto yang dirilis oleh China Military Online, dilengkapi dengan probe khusus. Ini memungkinkan pesawat menerima pengisian bahan bakar di udara. Selain itu, pesawat juga diklaim mampu terbang lebih lama dan lebih kuat. Dengan demikian, pesawat tempur akan menjadi tambahan kekuatan bagi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) untuk mempertahankan misi peringatan dini di perairan sengketa itu, kata analis. [mtpl]