-->

Breaking

logo

September 10, 2020

Indonesia & Tiongkok Sepakat Selesaikan Polemik Laut China Selatan

Indonesia & Tiongkok Sepakat Selesaikan Polemik Laut China Selatan

NUSAWARTA - Dalam pertemuan antara Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan China Wei Fenghe, kedua pihak bersedia untuk memperkuat dialog dan konsultasi dengan Indonesia untuk bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan.

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan China Wei Fenghe telah sepakat untuk menyelesaikan masalah apa pun yang timbul di Laut China Selatan melalui dialog, kata pejabat senior pemerintah Indonesia, Rabu (9/9), yang berbicara dengan The Straits Times.

Kedua menteri, dalam pertemuan mereka di Jakarta pada Selasa (8/9), juga membahas kemungkinan untuk mengadakan latihan militer bersama dan pelatihan personel, serta investasi dalam proyek-proyek food estate Indonesia, imbuh pejabat itu, yang tak ingin disebutkan namanya, kepada The Straits Times.

Prabowo, Wei, dan Penasihat Negara China membahas masalah bilateral, termasuk upaya bersama untuk memerangi virus corona, dan kerja sama dalam industri pertahanan, kata pernyataan pers yang dikeluarkan oleh kantor Prabowo pada Selasa (8/9) malam. Pernyataan itu tidak menjelaskan lebih lanjut.

Dalam pertemuan tersebut, Wei mengatakan China bersedia untuk memperkuat dialog dan konsultasi dengan Indonesia untuk bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan, kantor berita Xinhua melaporkan.

Wei mengunjungi Indonesia setelah mendarat di Kuala Lumpur pada Senin (7/9), di mana dia mengadakan pertemuan terpisah dengan Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin dan Menteri Pertahanan Ismail Sabri Yaacob.

Kunjungan tersebut dilakukan ketika para menteri luar negeri dari 10 anggota ASEAN memulai konsultasi regional tahunan mereka pada Rabu (9/9), dengan gesekan AS-China, termasuk di Laut China Selatan, menjadi salah satu agendanya.

Pertemuan ASEAN dilakukan melalui konferensi video, dengan Vietnam sebagai ketuanya.

Sementara itu, diplomat senior China, Penasihat Negara Wang Yi, mengatakan pada Rabu, Amerika Serikat secara langsung melakukan intervensi dalam sengketa teritorial dan maritim di Laut China Selatan karena kebutuhan politiknya sendiri, Reuters melaporkan.

AS menjadi pendorong militerisasi terbesar di kawasan itu, kata Wang dalam konferensi video dengan para menteri luar negeri di KTT ASEAN.

“Perdamaian dan stabilitas adalah kepentingan strategis terbesar China di Laut China Selatan. Ini juga merupakan aspirasi strategis bersama dari China dan negara-negara ASEAN,” tutur Wang dalam pernyataan yang diunggah di situs kementerian luar negeri, seperti yang dikutip oleh Reuters.

Terkait hubungan Indonesia-China, pejabat pemerintah Indonesia menyatakan, hubungan bilateral telah ditandai dengan proyek yang saling menguntungkan, seperti proyek industri nikel joint venture di provinsi Sulawesi Tengah.

Namun, ada juga beberapa insiden perbatasan laut yang sempat membuat hubungan antara kedua negara memanas, yang telah dikelola oleh pemerintah Indonesia dan China.

Indonesia telah berulang kali menekankan kedaulatannya atas wilayah di utara Kepulauan Natuna, di mana dikatakan telah terjadi perambahan oleh kapal China dan Vietnam selama bertahun-tahun.

Tiga tahun lalu, pejabat senior pemerintah Indonesia meluncurkan peta yang mengidentifikasi bagian Laut China Selatan di utara Kepulauan Natuna sebagai Laut Natuna Utara. Meskipun wilayah tersebut termasuk zona ekonomi eksklusif Indonesia, namanya tidak pernah disebutkan sebelumnya dan dijadikan bagian dari Laut China Selatan.

China mengklaim sebagian besar Laut China Selatan sebagai wilayah kedaulatannya, tetapi Brunei, Malaysia, Filipina, dan Vietnam juga mengklaim bagian-bagian dari wilayah yang dilalui perdagangan sekitar US$3 triliun setiap tahun itu.

Indonesia telah bersikukuh tidak menjadi pihak dalam sengketa Laut China Selatan, dan tidak ingin terlibat dalam persaingan AS-China untuk mendapatkan pengaruh regional.

“ASEAN, Indonesia, ingin menunjukkan kepada semua bahwa kami siap menjadi mitra,” ungkap Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kepada Reuters, Selasa (8/9).

“Kami tidak ingin terjebak dalam persaingan ini.”

Indonesia telah menerima banyak investasi China dan kerja sama bisnis dalam beberapa tahun terakhir, termasuk BUMN PT Bio Farma yang bekerja sama dengan perusahaan China Sinovac untuk mengembangkan vaksin COVID-19 sejak April.

Saat ini, ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini sedang mencari investor untuk mendorong pengembangan dua perkebunan pangan nasional di Kalimantan Tengah dan Sumatera Utara sebagai bagian dari upaya untuk mencegah dampak buruk dari krisis pangan global akibat pandemi COVID-19. [mtpl]