-->

Breaking

logo

September 11, 2020

Intoleransi Dipicu Pemahaman Agama yang Tidak Tuntas

Intoleransi Dipicu Pemahaman Agama yang Tidak Tuntas

NUSAWARTA - Hingga saat ini, persoalan relasi agama dengan negara belum bisa dinyatakan tuntas. Hal ini diingatkan oleh Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sekaligus rohaniawan, Pastor Antonius Benny Susetyo.

“Masalah yang belum tuntas sampai saat ini adalah soal relasi antara agama dan negara. Ini harus menjadi perhatian dan dicarikan solusi,” ujarnya, saat menjadi pembicara pada Simposium Nasional Sigma Pancasila, Studi dan Relasi Lintas Agama Berparadigma Pancasila, di Serang, Banten, Jumat (11/09/2020).

Selain itu, jelas Romo Benny –sapaan akrabnya, agama harus menjadi fungsi dalam menciptakan keadaban kemanusiaan. Namun sekarang, agama malah dipolitisasi di ruang publik demi kepentingan pihak tertentu. Dia menilai, ini terjadi karena pemahaman agama yang tidak utuh.

“Politisasi agama di ruang publik marak terjadi. Penyebabnya, karena pemahaman yang tidak utuh. Ini melanggar nilai ketuhanan. Ketika manusia dijadikan alat produksi, tapi kehilangan rasa kemanusiaannya. Ini yang disebut dengan mekanistis dijajah,” tegas Romo Benny, di acara yang dihelat Deputi Bidang Pengkajian dan Materi BPIP dari 10 hingga 12 September ini.

Beragama, lanjutnya lagi, selalu berinteraksi dengan kebudayaan. Inilah yang membuat agama menjadi lembut dan berbelas kasih. “Orang yang mencintai Tuhan, pasti berbelas kasih dan mencintai perdamaian. Jika dia melakukan kekerasan, dia sudah mencederai agamanya sendiri,” tegas alumni Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana Malang ini.

Lebih jauh dia mengingatkan, agama harus menjadi inspirasi batin bagi seluruh individu. Bukan sebagai alat untuk unsur kepentingan tertentu. “Pancasila belum menjadi habitus dalam mengambil kebijakan. Sehingga kasus intoleransi dan diskiriminasi masih dirasakan, karena nilai Pancasila tidak ditanamkan,” jelas Romo Benny.

Dialog langsung kepada masyarakat pun, dia rasakan saat ini perlu dilakukan. Terutama dalam membumikan nilai-nilai Pancasila, sehingga terbentuk masyarakat yang lebih toleran dan bisa menerima perbedaan.

Sementara pembicara lain, akademisi Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Budhy Munawar Rachman mengingatkan, Pancasila merupakan visi untuk mencapai tujuan dan kedamaian di Indonesia. Dalam segi toleransi, ujarnya, Indonesia sudah masuk ke tahap menerima, mendukung, merawat, dan merayakan.

“Ini sudah dialami sampai sekarang, dan masih hidup, walaupun banyak tantangannya. Pancasila bisa dibayangkan sebagai visi yang bisa menstimulasi keberagaman,” ungkap Budhy.

Sayangnya, lanjut mantan Direktur Pusat Studi Islam Paramadina (1992-2004) ini, masalah yang masih sering ditemukan di Indonesia adalah, masyarakat yang menganggap kekerasan adalah jalan keluar dari permasalahan. “Ini tantangan, mengubah cara pandang yang salah ini,” tegasnya.

Sedangkan Deputi Pengkajian dan Materi BPIP, Adji Samekto menegaskan, masyarakat wajib berterima kasih kepada para pendiri bangsa. Karena sudah menjadikan bangsa ini sebagai negara religius yang modern.

”Indonesia didirikan atas dasar Pancasila, yang kemudian menjadi landasan filosofis berdirinya negara. Pancasila sebagaimana disampaikan Bung Karno, sangat menghargai kesetaraan,” tutupnya. [rmco]