-->

Breaking

logo

September 6, 2020

Keluarga Amien Rais Berbeda dengan Keluarga 'Cemara'

Keluarga Amien Rais Berbeda dengan Keluarga 'Cemara'

NUSAWARTA - Di belakang layar, tak ada yang tahu pasti seperti apa keluarga Amien Rais sebenarnya. Tapi, kalau di panggung politik saat ini ada kesan keluarga tokoh reformasi itu seperti tak seindah dan tak semesra Keluarga Cemara yang digambarkan di film.

Buktinya, Amien tidak akur dengan Zulkifli Hasan yang nyata-nyata adalah besannya. Amien juga terkesan tak kompak dengan anaknya, Mumtaz Rais.

Semua itu, penyebabnya hanya satu: karena urusan politik. Amien tak pernah mendukung Zulkifli memimpin PAN dua periode. Tapi, Zulkifli masih ngotot mau lagi. Akhirnya, Zulkifli menang, sedangkan Amien gagal memenangkan jagoannya. Zulkifli berulang kali ingin menghadap Amien, tapi Amien belum memberikan waktu.

Zulkifli merayu, memuji, dan bersedih kalau Amien sampai keluar dari PAN dan mendirikan partai baru. Tapi, beberapa loyalis Amien sesumbar partai baru yang akan didirikan Amien akan segera dideklarasikan.

Nah, Mumtaz yang merupakan mantunya Zulkifli memilih berada di gerbong ayah istrinya itu. Mumtaz tidak yakin ayahnya dan kakaknya, Hanafi Rais akan mendirikan partai baru.

Disebut-sebut partai baru itu namanya PAN Reformasi. PAN Reformasi merupakan partai baru yang diinisiasi oleh kader PAN yang kecewa dalam Kongres V di Kendari, Februari lalu. Rencananya, PAN Reformasi bakal deklarasi Desember mendatang. Amien dan Hanafi Rais diklaim berada dalam partai baru ini.

"Pak Amien dan kawan-kawan menjadi motor lahirnya partai baru. Setelah melalui diskusi yang panjang ternyata usulan yang menguat adalah nama Partai PAN Reformasi," kata loyalis Amien, Agung Mozin kepada wartawan, akhir Agustus lalu.

Namun, rencana pembentukan PAN Reformasi justru dapat komentar negatif dari Mumtaz Rais. Anak Amien yang juga Ketua DPP PAN ini ragu bila PAN Reformasi bakal terbentuk. Bahkan dia menyebut PAN Reformasi sebagai kelompok pengangguran yang berhalusinasi ingin menjadi partai.

"Mereka (anggota Dewan dan kepala daerah PAN) semua sibuk bekerja, bukan seperti para pengangguran itu yang luntang-lantung berhalusinasi mau bikin partai," kata Mumtaz.

Mumtaz juga membantah kalau disebut PAN Reformasi terdiri dari seperempat pengurus PAN dan DPR tingkat I maupun II. Kalau klaim itu benar, Mumtaz bakal kasih reward. Hadiahnya, berupa berenang dari Pantai Kapuk, Jakarta utara, ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur jika PAN Reformasi berdiri.

"Kalau memang PAN halusinasi ini sampai benar terbentuk dan diisi sekitar 1.500-an kader PAN maka saya sebagai Ketua POK DPP penjaga tangguh benteng PAN ini akan berenang dari Pantai Kapuk sampai Labuan Bajo, sebagai bentuk give away, persembahan dari saya," selorohnya.

Pernyataan Mumtaz keluar sebagai pembelaan terhadap Ketum PAN, Zulhas. Dia menepis anggapan soal rencana berdirinya PAN Reformasi sebagai kado pahit ulang tahun ke-58 Sang Mertua. "Kado pahit? Justru kado yang nasgitel, panas legi dan kenthel," kata Mumtaz.

Kritikan Mumtaz dijawab Agung Mozin. Kata dia, anak Amien itu lagi panik yang berlebihan. "Mumtaz memberikan komentar terkait rencana kami ini maka terlihatlah ketidakdewasaan beliau terhadap bagaimana menanggapi perbedaan tersebut," cetus Agung.

Perbedaan sifat Amien dan Mumtaz sempat dibuka oleh Hanum Rais. Menurut Hanum, sosok Mumtaz bukan sepenuhnya menggambarkan sosok ayahnya. "Mumtaz Rais dan Amien Rais adalah individu yang berbeda meski kiranya Allah menakdirkan kami adalah satu kesatuan keluarga," tulis Hanum di laman instagram pribadinya @hanumrais.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review, Ujang Komarudin, menilai pernyataan Mumtaz adalah hal yang wajar. Namun, menurut Ujang, Mumtaz masih minim pengalaman politik dibanding ayahnya. Artinya, kemungkinan Amien mendirikan PAN Reformasi akan terealisasi.

"Perjuangan Amien untuk mendirikan partai itu keharusan sebagai alat perjuangan politik," sebutnya.

Ujang Komarudin mengaku istilah keluarga cemara tak lagi tampak di keluarga Amien. Pasalnya, keluarga Rais telah memutuskan pandangan politiknya masing-masing.

"Secara politik sudah berbeda haluan politik. Zulhas yang besan Amien satu gerbong di PAN dengan Mumtaz. Dan di gerbong lain ada Amien dengan loyalisnya yang akan bentuk partai baru," bebernya.

Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menegaskan pernyataan Mumtaz cenderung pembelaan terhadap Zul yang merupakan mertuanya. Trah Amien dan Zulhas telah menggoreskan sejarah di tubuh Partai Matahari itu.

"Kalau saya melihatnya, Mumtaz bukan sebagai keluarga Amien tapi sebagai bagian dari keluarga Zulhas. Karena, kita tahu Mumtaz adalah menantu Zulhas," ungkapnya. [rmco]