-->

Breaking

logo

September 7, 2020

Kisah Petugas Pemakaman Covid-19: 'Dikomplain Keluarga, Makan Sambil Gali...

Kisah Petugas Pemakaman Covid-19: 'Dikomplain Keluarga, Makan Sambil Gali...

NUSAWARTA - Petugas pemakaman merupakan salah satu profesi yang paling sibuk selama Covid-19 menyerang. Tingginya angka kematian akibat Covid-19, membuat petugas pemakaman harus bekerja siang dan malam. Tiap hari, mereka hampir tak pernah libur.

Di Jakarta, TPU Pondok Rangon ditetapkan sebagai 1 dari tiga lokasi khusus pemakaman pasien Covid-19. Tiap hari, TPU ini tidak pernah absen menguburkan warga yang meninggal akibat Covid19. Hal ini tentu saja membuat petugas pemakaman di TPU Pondok Rangon cukup kewalahan.

Di TPU Pondok Rangon terdapat 4 grup petugas makam dengan jumlah 22 orang per group. Setiap grup bertugas selama seminggu dan setiap harinya menggali minimal 20 liang lahat secara manual untuk jenazah Covid-19.

Kemarin, Rakyat Merdeka berkunjung ke TPU Pondok Rangon. Saat tiba di lokasi, telihat petugas Penyedia Jasa Lainnya Perorangan Gali Tutup Makam (PJlPGTM) lagi sibuk bekerja. Mereka sedang mempersiapkan beberapa lubang makam di beberapa titik TPU. Teriknya matahari, membuat badan para petugas basah oleh keringat.

Para petugas pemakaman ini, ada yang memakai APD lengkap, ada juga yang memakai APD seadanya. Seragam hijau serta APD berwarna kuning menghiasi hamparan tanah merah sebagai tempat peristirahatan terakhir.

3 jam “nongkrong” di TPU, terlihat ada lima mobil ambulans yang datang. Artinya, hanya dalam waktu 3 jam, sudah ada 5 warga yang meninggal karena Corona. ambulans berhenti. Petugas medis turun dari ambulance, lalu mengeluarkan jenazah yang berada di dalam peti kayu. Jenazah langsung dibawa ke lubang makam yang sudah disiapkan.

Ada lima petugas pemakaman langsung menerima peti mati dan menurunkannya ke dalam lubang. Prosesnya cepat. Namun tahapannya tetap sama seperti pemakaman lain. Ada adzan dan doa, untuk jenazah beragama Islam.

Imam Maulana, salah satu petugas pemakaman berbagi cerita. Dalam beberapa bulan ini, dirinya kerap tidur di area TPU. “Sebetulnya tidak ada istilah istirahat. Karena saat lagi makan, tiba-tiba ada instruksi untuk pemakaman. Nanti makannya dilanjut lagi,” tuturnya.

Dua hari lalu, lanjut Imang, petugas PJLP harus bekerja hingga lewat pukul 11 malam. Hari itu memang kasus yang meninggal di Jakarta karena Corona memang lagi tinggi. “Kami sudah mandi tiba-tiba ditelpon ada jenazah yang masuk. Apalagi informasi itu dari Babinsa setempat, apa boleh buat kami ke makam untuk melakukan pemakaman,” ujar Imang.

Dia mengaku banyak anggota keluarga yang ‘ngeyel’ ketika petugas PJLP melaksanakan pemakaman dengan protap Covid-19. Ada keluarga yang ngotot ingin masuk ke dalam lubang makam atau berada di dekat lubang. Padahal sesuai protap, keluarga tidak boleh terlalu dekat dengan jenazah. Terlebih, sikap ‘ngeyel’ itu ditunjukkan oleh orang-orang yang notabene memiliki jabatan. “Tapi kami hadapi dengan lapang dada. Kami layani baik, jawab baik, dan hal-hal yang sifatnya baik,” ungkapnya.

Dia bilang setelah proses penguburan selesai, keluarga korban diperbolehkan untuk mendekati liang lahat. “Kapan saja boleh (nyekar) asalkan ketika ambulance lain datang disarankan untuk menjauh,” jelasnya.

Pengalaman lebih pahit dikisahkan Imang saat awal-awal Covid melanda. Pasalnya, saat itu belum ada pengarahan terkait pemakaman protap Covid. APD pun terbatas. Ditambah lagi cuaca ekstrim. Hal ini mengakibatkan petugas PJLP terserang penyakit yang identik dengan Covid-19.

“Tapi, Alhamdulilah makin ke sini kami sudah terbiasa. Terus ada arahan dari Dinas Kesehatan, ditambah bantuan donasi rapid test. Akhirnya kami enjoy, terpenting niatnya adalah tanggung jawab pekerjaan dan ikhlas,” paparnya.

Dia pun mengaku persediaan APD mulai membaik. Ini berkat bantuan donatur dan tanggung jawab Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI. “Untuk insentif juga alhamdulilah penyalurannya lancar walaupun sempat ada ketersendatan. Hanya soal waktu saja, alhamdulilah dibayarkan ke kami,” beber Imang.

Wawancara berhenti sejenak. Saat itu, ada insiden keluarga korban sedang beradu argumen dengan petugas. Penyebabnya, keluarga korban tidak terima diingatkan untuk menjauh sebelum proses penguburan selesai. “Kami sudah lelah, ditegur pengawas, ditambah keluarga ngeyel seperti ini. Padahal sudah kami jelaskan bagaimana prosedurnya tapi tetap saja ngeyel,” kesal Muhidir, petugas PJLP yang lain.

Menurut Muhidir, seharusnya keluarga korban menunggu di ruang tunggu yang telah disediakan. “Tidak boleh masuk pemakaman dulu. Nanti setelah jenazah dimakamkan baru keluarga boleh masuk,” jelasnya.

Terpisah, Asep, petugas PJLP TPU Tegal Alur memiliki keluhan yang sama seperti Imang dan Muhidir. Dia menilai masih ada keluarga korban yang tidak bisa mengikuti aturan pemakaman Covid-19. “Mereka berdalih korban meninggal karena riwayat penyakit lain, bukan Covid. Makanya dia nggak nerima korban dimakamkan secara Covid,” ucapnya saat dihubungi Rakyat Merdeka, kemarin.

Selain itu, Asep juga menyinggung soal insentif yang belum diberikan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI kepada dia dan timnya. “Ya, (bulan ini) belum. Mungkin lagi diproses. Biasanya sih sesudah gajian tapi kami nggak bisa nentuin tanggal gajiannya,” akunya.

Junaedi, petugas lain juga punya pengalaman lain. Dirinya nyaris tidak diterima warga dari tempatnya tinggal. Alasannya, warga takut tertular Corona. “Beruntung saya bisa menjelaskan. Dan warga bersikap seperti biasa,” kata pria paruh baya ini. [rmco]