-->

Breaking

logo

September 10, 2020

KITA: Terorisme dan Radikalisme Lahir dari Puritanisme

KITA: Terorisme dan Radikalisme Lahir dari Puritanisme

NUSAWARTA - Ketua Badan Kebijakan Kerapatan Indonesia Tanah Air (KITA) Maman Imanulhaq menyebut radikalisme dan terorisme tidak bisa lepas dari permasalahan puritanisme.

Menurut Maman, puritanisme merupakan akar dari seseorang bisa menjadi radikal dan berujung melahirkan aksi terorisme.

"Saya melihat bahwa puritanisme menjadi akar dari persoalan radikalisme, dari puritanisme orang jadi radikalisme, radikalisme akhirnya melahirkan terorisme," ungkap Maman dalam sebuah diskusi virtual, Kamis (10/9).

Maman mengatakan, puritanisme yang menjadi akar radikalisme memiliki empat ciri.

Pertama, mereka hanya mengetahui satu atau dua dalil atau pemahamannya mengenai dalil tersebut sangat literal.

Mereka, kata Maman, tidak mau membaca dalil lain dan enggan mencari argumentasi yang lain. Para puritanisme itu hanya berpegangan pada satu ayat dalam kitab suci.

"Mereka hanya (memahami) satu ayat, dan itu diulang-ulang seolah tidak ada ayat lain. Ayat kebencian, fitnah, pemecah belah, dan sebagainya," kata pria yang juga dikenal politikus PKB tersebut.

Oleh karena itu, kata Maman, Gerakan KITA berencana membuat gerakan literasi ke berbagai kelompok, baik ke pesantren atau gereja, dan tempat-tempat ibadah lainnya.

Kemudian, ciri yang kedua, kelompok puritanisme dianggap sebagai kelompok ahistoris.

"Sesungguhnya Indonesia ditenun atas keragaman, Indonesia dibangun oleh asal usul orang berbeda tapi dengan semangat yang sama. Hubul waton minal iman. Mencintai tanah air adalah komitmen dari keimanan," tuturnya.

Oleh karena itu, ia menilai aneh jika saat ini masih banyak pihak yang ingin menegakkan sistem khilafah di Indonesia. Menurut Maman, kelompok tersebut merasa paling benar, berjasa, dan paling merasa Indonesia.

Ciri yang ketiga, yakni, kelompok puritanisme tersebut antidialog. Serta, ciri-ciri yang terakhir, kelompok puritanisme juga melahirkan kelompok-kelompok yang licik.

"Mereka ngomong sesuatu yang seolah benar, tapi mereka salah. Khilafah memang ada, disebut dalam quran, memang ada dalam sejarah," ujarnya.

Deklarasi di Yogyakarta

Maman mengatakan pihaknya bakal segera menggelar kongres pertama di Yogyakarta.

"KITA akan melakukan kongres pertama di Yogyakarta, 28 Oktober. Dukungan dari beberapa tokoh menjadi penting, karena KITA bergerak pada politik kesadaran," kata Maman dalam sebuah diskusi virtual, Kamis (10/9).

Sebagai informasi, KITA pertama kali dideklarasikan di Gedung Joeang, Menteng, Jakarta Pusat, 19 Agustus 2020. Gerakan itu muncul, sehari setelah gerakan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) mendeklarasikan diri di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat.

Maman mengklaim gerakan KITA bukan untuk merespons gerakan KAMI. Maman juga mengklaim gerakannnya tak akan berubah menjadi partai politik.

"Tidak akan pernah menjadi parpol sampai kapanpun, walau di dalamnya ada tokoh politik seperti saya, tapi seniman, budayawan, agamawan, tokoh pemuda, bergabung termasuk di dalamnya tokoh perempuan," ujar dia.

Maman mengatakan, terbentuknya KITA ini juga dilandasi dengan peradaban nusantara yang terdiri dari beragam suku, bahasa, dan agama.

Gerakan KITA diinisiasi oleh mantan Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf, Maman Imanulhaq. Sementara, KAMI banyak diisi oleh orang-orang yang kritis terhadap pemerintahan Jokowi-Ma'ruf ataupun bekas tim sukses kubu lawan di Pilpres 2019. [cnn]