-->

Breaking

logo

September 3, 2020

Mumtaz Raiz: Muhammadiyah Mulai Jengel dengan Kubu Amien Rais, Kasar!

Mumtaz Raiz: Muhammadiyah Mulai Jengel dengan Kubu Amien Rais, Kasar!

NUSAWARTA - Ketua DPP PAN Mumtaz Rais yang juga sebagai putra mantan Ketua MPR Amien Rais menganggap partai baru ayahnya bernama PAN Reformasi tak bakal terwujud.

Mumtaz bahkan berani bernazar untuk berenang dari Pantai Kapuk, Jakarta Utara, sampai Labuan Bajo, NTT, jika PAN Reformasi sukses dibentuk, dan diisi seperempat dari anggota dewan.

“Kalau memang PAN Halusinasi (PAN Reformasi) sampai beneran terbentuk dan diisi seperempat saja dari anggota dewan kita yang berjumlah sekitar 1.500, maka saya sebagai Ketua POK DPP penjaga tangguh benteng PAN ini akan berenang dari Pantai Kapuk sampai Labuan Bajo,” kata Mumtaz, dalam perbincangan dengan Rosiana Silalahi, di program Kamar Rosi, di Kompas TV, disitat Kamis, 3 September 2020.

Dia juga kembali bertaruh, akan kembali berenang dari Labuan Bajo ke Pantai Kapuk, apabila Menteri Hukum dan HAM menerbitkan surat keputusan (SK) partai tersebut.

Ada satu hal yang menjadi pertimbangannya bernazar demikian. Mumtaz mengaku sadar betul hal itu susah terwujud. PAN sendiri, yang sudah 22 tahun berdiri, hingga kini masih berdarah-darah membangun struktur di provinsi.

Maka, diprediksi, bakal akan menjadi sulit bagi PAN Reformasi untuk mewujudkannya.

Tak ada yang tertarik

Mumtaz kemudian memprediksi, kalau partai baru Amien Rais itu pada Desember 2020 nanti, hanya sebatas akan mendeklarasikan serta peluncuran logo saja. Sementara struktur kepengurusan wilayah dari daerah itu dijamin kopong melompong.

Ada sejumlah alasan kuat, mengapa dia berkata demikian. Pertama, saat ini banyak pihak tengah disibukkan dengan Pilkada. Artinya, hanya tinggal tiga sampai empat bulan bagi PAN Reformasi untuk membentuk dan mendeklarasikan diri dari Aceh sampai Papua.

Sementara PAN, yang notabene berdiri sejak 22 tahun saja, kata dia, masih terus mengelola kepengurusan di daerah.

“Kita ini PAN asli sudah 22 tahun, dan saya sebagai pelaku utama, yang selalu mimpin sidang di tiap wilayah, selalu merasa capek. Muter terus enggak ada waktu buat leyeh-leyeh, enggak ada.”

“Itu memakan waktu yang bertahun-tahun. Terus mereka kok koar-koar mau bikin PAN reformasi, kenapa enggak sekalian PAN revolusi ya?”

“Makanya saya berani bertaruh, saya akan renang dari Pantai Kapuk sampai Labuan Bajo jika, jelas ya syaratnya ya, jika Desember nanti mereka bisa mendeklarasikan PAN itu secara sah dari stuktur 34 wilayah,” kata Mumtaz.

Kedua, Mumtaz yang saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pembinaan Organisasi dan Keanggotaan PAN, mengaku adalah orang yang paling tahu betul daging sampai tulang belulang partai berlogo matahari terbitu itu.

“Enggak ada sama sekali anggota dewan PAN yang tertarik ke sana tuh, ke PAN halu itu tuh,” kata Mumtaz.

Dari kubu PAN sendiri, saat ini dikatakan Mumtaz kerap tertawa jika ada pemberitaan mengenai PAN Reformasi bentukan Amien Rais. Mereka, kata Mumtaz, hanya kerap menjadikannya sebagai bahan lelucon.

Muhammadiyah mulai sebel

Dalam kesempatan yang sama, Mumtaz kemudian mengaku mengapa dirinya mulai menanggapi PAN Reformasi yang notabene adalah bentukan ayahnya sendiri. Kata dia, hal itu sengaja disampaikan agar mereka kian tak punya panggung dan merasa mendapat angin terus.

Mumtaz juga menyebut, saat ini Muhammadiyah sebagai backbone dari PAN, mulai agak kesal dengan kubu Amien Rais. Penyebabnya, mereka seolah kasar dan kerap menyerang dalam tiap statemennya.

“PAN ini tulang belakangnya, backbone nya itu Muhammadiyah, dan mohon maaf ini, Muhamadiyah saat ini sudah mulai agak kesal dengan sebelah sana. Kenapa? Karena setiap Pak Amien bicara di publik, berceramah itu suka pakai kata-kata agak menyerang. Kasar.”

“Awas Muhammadiyah, itu ketua umumnya Haedar Nasir, kalau ketuanya mendukung rezim ini, maka akan saya jewer. Ya mereka enggak senanglah dengan yang kayak begitu-begitu,” katanya lagi. “Muhammadiyah itu sudah sebel sama orang-orang yang keras macam begitu. Dikit-dikit jewer, dikit-dikit jewer, aduh tolong.”

Meski demikian, Mumtaz sendiri menyatakan jika sebenarnya Amien Rais tak salah. Namun dia telah dihasut oleh pembisik-pembisik yang sering disebutnya loyalis.

Mumtaz menyayangkan sikap ayahnya karena dikerubungi oleh orang-orang yang salah.

“Jadi begini, Pak Amien ini posisinya enggak salah, sama sekali enggak salah. Beliau professor politik, pasti penuh dengan hitung-hitungan politik. Tapi yang jadi masalah saat ini, yang disebut loyalis itu loh,” katanya. [hps]