-->

Breaking

logo

September 10, 2020

Penyebab Algoritma Google Sering Munculkan 'Anies Gubernur Terbodoh'

Penyebab Algoritma Google Sering Munculkan 'Anies Gubernur Terbodoh'

NUSAWARTA - Jika mengetikkan kata kunci “Gubernur Terbodoh”, maka kita akan diarahkan pada sosok Anies Baswedan. Fenomena ini nyaris serupa dengan yang terjadi pada 2008, saat orang mengetik “Idiot”, maka yang keluar adalah Donald Trump. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Algoritma Google di awal 2020 ini tak memihak Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Pasalnya, jika kalian mengetik “Gubernur Terbodoh” di mesin pencarian Google, maka yang muncul adalah Anies. Banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya lah yang diduga menjadi musabab kenapa mantan Rektor Universitas Paramadina tersebut dianggap sebagai “Gubernur Terbodoh”.

Banjir yang datang sebagai pembuka Tahun Baru ini sendiri merupakan bencana besar yang menyedot perhatian bagi semua kalangan. Tentu saja dalam hal ini, Gubernur DKI menjadi pihak yang relatif paling terpojok dan terus disalahkan. Padahal jika merujuk kejadian di lapangan, banjir yang terparah justru ada di wilayah Banten dan Bekasi.

Berdasarkan Telset.id pada Sabtu (4/01), mengetik kata kunci “Gubernur Tebodoh” di Google Search akan membawa kita pada sejumlah artikel yang menyebut Anies Baswedan sebagai Gubernur Terbodorh. Telset menemukan, dari 275.000 pencarian “Gubernur Terbodoh”, itu akan mengarah ke sejumlah website, seperti Seword.com, Wowkeren.com, Line, dan Quora.com.

Hasil serupa juga ditemukan dalam penelusuran hasil gambar di Google Search Images. Hasil gambar dari kata kunci tersebut juga memuat foto Anies Baswedan dalam berbagai kegiatan, selama menjadi orang nomor 1 di Jakarta.

Lantas, mengapa reputasi Anies bisa begitu anjlok di Google. Usut punya usut, posisinya sebagai Gubernur DKI Jakarta secara tak langsung membuat Anies menjadi orang nomor satu yang bertanggung jawab ketika dihadapkan pada masalah banjir. Anies dinilai tak becus menangani problem tahunan yang melanda ibu kota.

Padahal, saat masa kampanye Pemilihan Gubernur DKI beberapa tahun lalu, Anies paling getol menguraikan pelbagai strategi penanganan banjirnya yang sangat populis: naturalisasi sungai tanpa menggusur warga, pembangunan bendungan, dan drainase vertikal. Semua hanya wacana, sebab banjir tetap menjadi musuh warga ibu kota awal tahun ini.

Selain dianggap tak becus kerja, Anies juga dinilai seluruh upayanya mengatasi banjir hari-hari ini hanya pencitraan semata. Mengutip Indopolitika, saat mantan Mendiknas ini turun ke lapangan untuk membantu warga membersihkan sisa-sisa banjir, salah satu akun Twitter atas nama Rudi Valinka @kurawa menuding Anies tengah berupaya membersihkan namanya dari perkataan “Gubernur Paling Bodoh”.

Ia juga menuduh, media-media yang menulis beritanya dengan sentimen pemberitaan positif adalah media yang sudah disiram uang ratusan juta oleh Anies.

“Baru dibisikin info orang dalam, mengapa tim Gabener Nyiram duit ratusan juta ke media online utk berita kerja bakti. Ternyata dia marah dengan twit kalo ketik di Google: “Gubernur Terbodoh”, yang keluar nama dan Muke dia 😄😄,” tulisnya.

“Makanya dia belanja media hari ini utk tutup itu. Diketawain sama orang advertising media neh, Gabener briefing beritanya serupa gini: Jorok banget caranya guyur ratusan juta beli berita di semua media online  kagak mutu gini 😁😁, Yahhh uang rakyat lagi dia pakai,” tuduhnya.

Kondisi ini setidaknya pernah dialami oleh Donald Trump pada 2018. Kala itu, pengguna yang mengetikkan kata “idiot” akan melihat ulasan atau foto terkait Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Lalu, kenapa hal ini bisa terjadi?

Hal ini disebabkan oleh algoritma Google yang menampilkan hasil dengan keterikatan kuat atas kata kunci yang diketikkan. CEO Google Sundar Pichai pernah menjelaskan bahwa Google menjelajah miliaran laman setiap pengguna mengetikkan kata kunci. Google lalu mencocokkan laman tersebut dan memberikan peringkat berdasarkan lebih dari 200 indikasi. Indikasi ini berupa relevansi, popularitas, fenomena paling baru (aktualitas), dan cara orang lain menggunakannya.

Dengan begitu, muncullah kata kunci “Gubernur Terbodoh” yang langsung merujuk ke Anies Baswedan. [mtpl]