-->

Breaking

logo

September 1, 2020

Pertamina Blak-blakan Ungkap Alasan Hapus Premium-Pertalite

Pertamina Blak-blakan Ungkap Alasan Hapus Premium-Pertalite

NUSAWARTA - Rapat Dengar Pendapat antara Pertamina dan Komisi VII DPR RI kembali digelar. Rapat tersebut membahas rencana hapus BBM jenis Premium dan Pertalite.

Diketahui, Pertamina berencana melakukan penghapusan dua jenis BBM tersebut lantaran berusaha mengikuti ketentuan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 tahun 2019 yang mensyaratkan standar minimal RON 91.

Menurut Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, di Indonesia, saat ini masih ada dua jenis BBM yang dijual dengan RON di bawah 91. Kedua jenis BBM itu adalah Premium (RON 88) dan Pertalite (RON 90).

Di satu sisi, disitat Kontan, Selasa 1 September 2020, penyederhanaan produk dengan upaya dihapus nya BBM jenis Premium dan Pertalite tentu dilematis. Sebab dua produk itulah yang saat ini memiliki kontribusi paling besar alias paling laris di masyarakat.

“Kita akan mencoba melakukan pengelolaan hal ini karena sebetulnya premium dan pertalite ini porsi konsumsinya paling besar,” kata Nicke.

Adapun hingga kini cuma tinggal tujuh negara saja yang menjual bahan bakar di bawah RON 90. Ketujuh negara tersebut adalah Bangladesh, Colombia, Mesir, Mongolia, Ukraina, Uzbekistan dan Indonesia.

Alasan Terpenting

Sementara itu, Nicke juga mengatakan, ada alasan penting lainnya mengapa Pertamina mencoba melakukan review atas dua jenis produk BBM, Premium dan Pertalite yang hendak di-hapus.

Kata dia, saat ini, Indonesia telah masuk dalam barisan negara yang punya GDP US$2.000 hingga US$9.000 per tahun. Dari ketentuan itu, artinya cuma Indonesia saja yang menjadi satu-satunya negara yang memasarkan produk paling banyak, yakni enam jenis.

“Jadi itu alasan yang paling penting kenapa kita perlu mereview kembali varian BBM ini, karena benchmark 10 negara seperti ini,” kata Nicke.

Di lain sisi, CEO Subholding Commercial and Trading Pertamina Mas’ud Khamid menyatakan, untuk BBM jenis Premium, pihaknya mencatat penjualannya memang terus mengalami penurunan sejak awal 2019 sampai pertengahan 2020.

Di 2020, tiap harinya, Pertamina mencatat, penjualan Premium berada di kisaran 24 ribu kiloliter. Padahal pada 2019, penjualan Premium bisa mencapai 31 ribu kiloliter hingga 32 ribu kiloliter per hari.

Mas’ud kemudian memperkirakan, penjualan Premium ke depan bakal kian menurun volumenya. “Pada 2024 penjualan volume gasoline sekitar 107 ribu kl per hari. Premium dari 24 ribu kl per hari menjadi 13,8 ribu kl per hari,” ujar Mas’ud. [hps]