-->

Breaking

logo

September 7, 2020

Seorang Pembelot Korut Ungkap Bagaimana Menderitanya Tinggal di Negaranya, Lihat Mayat di Jalanan adalah Hal Biasa

Seorang Pembelot Korut Ungkap Bagaimana Menderitanya Tinggal di Negaranya, Lihat Mayat di Jalanan adalah Hal Biasa

NUSAWARTA - Seorang pembelot asal Korea Utara (Korut) menceritakan nasib tragis yang dialami olehnya dan juga jutaan warga negara yang dipimpin oleh Kim Jong-un itu.

Pembelot bernama Yeonmi Park itu berhasil kabur dari Korut dan kini menetap di Amerika Serikat sejak 2007 lalu.

Usai bebas dari Korut, ia kerap melihat bagaimana warga di negara tersebut sangat menderita dan kurang mendapatkan perhatian.

Dikutip dari HZ Herald, Park juga menceritakan penduduk di Korut yang sering mati kelaparan sejak Kim Jong-un memimpin.

Menurutnya, tidak ada seorang pun yang memiliki teman. Pasalnya mengekspresikan suatu emosi kepada orang lain sangat dilarang.

Gadis berusia 26 tahun itu kemudian melanjutkan bahwa warga Korut memanggil orang-orang disekitarnya dengan nama 'Comrade'.

Park menuturkan, satu-satunya rasa kasih sayang yang ditunjukkan warga Korut hanyalah kepada Kim Jong-un.

Meski begitu, kedua orang tua Park mengaku tidak memiliki rasa cinta sedikit pun terhadap pemimpinnya.

Park yang kini telah menjadi seorang aktivis hak asasi manusia (HAM), menggambarkan rezim Korut sebagai 'Holocaust' zaman modern.

Dirinya menegaskan, tidak ada toleransi untuk orang-orang yang memiliki pendapat berbeda dengan pemerintah.

Park juga menjelaskan, Pemerintah Korut sangat menutup negaranya dari jangkauan negara-negara luar.

"Korea Utara telah dibersihkan sepenuhnya dari seluruh dunia, itu benar-benar kerajaan hermit. Ketika saya tumbuh besar di sana, saya tidak tahu bahwa saya terisolasi, saya tidak tahu bahwa saya sedang berdoa kepada seorang diktator," ujar Park.

Diakui Park ia dan saudara perempuannya diajari sebuah keyakinan pada saat masa-masa sekolah.

Dirinya diberitahu bahwa mendiang pemimpin tertinggi Kim Il-sung dan putranya, Kim Jong-il serta Kim Jong-un seperti dewa yang dapat menerawang pikiran orang lain.

Menurut Park, propaganda dan dongeng-dongeng yang dibuat Pemerintah Korut membuat warganya terlalu takut untuk berpikir negatif.

Dikatakan Park, masa-masa sekolah di Korut sangatlah brutal, di mana para pelajar dipaksa untuk melakukan 'sesi kritik'.

Hal tersebut dilakukan untuk menyerang dan menemukan kesalahan teman-teman sekelasnya.

Park mengklaim bahwa metode belajar tersebut diciptakan hanya untuk menimbulkan perpecahan.

Seperti yang sudah diketahui, sekitar 40 persen populasi Korut menderita kelaparan dan dilanda kekurangan pangan.

Park menambahkan, fakta-fakta tersebut acap kali disembunyikan oleh rezim pemerintah Korut.

"Kamu akan melihat begitu banyak orang sekarat. Itu adalah sesuatu yang biasa bagi kami untuk melihat mayat di jalan. Itu adalah hal yang sudah biasa bagi saya. Saya tidak pernah berpikir itu adalah sesuatu yang tidak biasa," jelas Park. [pkry]