-->

Breaking

logo

September 5, 2020

Sindiran Faisal Bahri pada Tito Soal Rindu Orde Baru

Sindiran Faisal Bahri pada Tito Soal Rindu Orde Baru

NUSAWARTA - Ekonom Faisal Basri menanggapi pernyataan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian yang menyebut negara-negara penganut sistem pemerintahan otokrasi atau oligarki lebih efektif menangani pandemi virus corona atau Covid-19.

Menurut Faisal, pernyataan Tito Karnavian sama saja dengan merindukan pemerintahan otoriter, seperti Orde Baru.

Faisal tidak sependapat dengan Tito. Ia memebeberkan sejumlah negara penganut sistem demokrasi yang berhasil menangani Covid-19.

“New Zealand, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, mayoritas negara Nordic, Australia, Irlandia dan banyak lagi adalah negara demokrasi relatif sangat berhasil atasi wabah COVID-19. Rindu Orde Baru,” kata Faisal Basri di akun Twitternya, Sabtu (5/9).

Mantan anggota Komnas HAM, Natalius Pigai juga tidak sependapat dengan Tito. Ia menyebut negara yang mampu menangani pandemik adalah negara yang presidennya jujur. Bukan karena sistem pemerintahan yang dianut.

“Saya tidak setuju pendapat Mendagri. Mayoritas negara demokratis di dunia telah atasi Covid-19 secara baik karena Presidennya jujur, berintegritas, berwibawa, & disegani,” ucap Natalius Pigai melalui akun Twitter pribadinya, Jumat malam (4/9).

Sebelumnya, Mendagri Tito Karnavian menyebut negara-negara yang menganut pemerintahan otokrasi atau oligarki lebih efektif menangani pandemi virus corona (Covid-19).

Tito menyebut negara dengan pemerintahan seperti itu mudah mengendalikan perilaku masyarakat dalam menghadapi pandemi karena kedaulatan negara dipegang oleh satu atau segelintir orang.

“Negara-negara yang menggunakan sistem politik otokrasi tangan satu orang atau oligarki yang dikuasai sekelompok orang, seperti China dan Vietnam, menangani dengan lebih efektif karena mereka menggunakan cara-cara yang keras,” kata Tito disiarkan langsung akun Youtube Kemendagri RI, Kamis (3/9).

Sementara negara penganut demokrasi, seperti Indonesia, India, dan Amerika Serikat cenderung mengalami kesulitan karena pemerintah tidak bisa memaksakan rakyatnya.

Tito mencontohkan sulitnya menerapkan protokol kesehatan di Indonesia. Padahal, tindakan yang dilakukan sederhana, seperti mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker saat beraktivitas di luar rumah.

“Mudah untuk dikatakan, tapi sulit dilaksanakan karena tergantung dari sistem politik, demografi dan sosial budaya,” ucap mantan Kapolri itu. [pjst]