-->

Breaking

logo

September 6, 2020

Soal Muslim Good Looking, KSHUMI: Seolah yang Radikal Itu Hanya Kalangan Muslim Saja

Soal Muslim Good Looking, KSHUMI: Seolah yang Radikal Itu Hanya Kalangan Muslim Saja

NUSAWARTA - Pernyataan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi soal anak-anak good looking yang digambarkan sebagai penyebar paham radikal masih menggelinding. Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia (KSHUMI) pun ikut menyoroti pernyataan itu.

Pernyataan tersebut disampaikan Menag Fachrul Razi dalam webinar bertajuk “Strategi Menangkal Radikalisme pada Aparatur Sipil Negara” yang tayang di akun Youtube Kementerian PAN-RB, Rabu (2/9) lalu.

“Mendorong Menteri Agama Fachrul Razi menarik ucapannya terkait paham radikal masuk melalui orang berpenampilan menarik atau good looking dan memiliki kemampuan agama yang baik,” kata Ketua Eksekutif Nasional BHP KSHUMI, Chandra Purna Irawan kepada JPNN.com, Sabtu (5/9).

“Pernyataan ini sangat menyakitkan. Seakan yang radikal itu hanya umat Islam dan para huffaz Al-Quran,” lanjut advokat muslim ini.

Dalam pendapat hukumnya, Chandra menyebut pernyataan Menag Fachrul dapat saja berpotensi memenuhi unsur pidana yaitu menebarkan kebencian terhadap sekelompok orang yang berdasarkan Ras, Etnis dan Agama.

Hal itu diatur dalam Pasal 16 Jo. Pasal 4 huruf b angka 1 Undang-undang Republik Indonesia No.40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi ras dan etnis

“Seakan yang radikal itu hanya umat Islam atau para huffaz Alquran atau yang bisa berbahasa Arab atau yang berakhlak mulia,” tukas Ketua LBH Pelita Umat ini. Chandra menyatakan bahwa Indonesia adalah negara hukum sehingga perlu terdapat kepastian hukum agar seseorang tidak mudah distigma dan dipersekusi.

Dia juga sangat menyayangkan seruan “memerangi radikalisme” tersebut karena dapat dinilai sebagai seruan yang tidak memiliki dasar hukum dikarenakan hingga saat ini tidak terdapat definisi konkret dan/atau unsur-unsur apa saja yang dapat disebut radikal berdasarkan peraturan perundang-undangan.

“Dan tidak terdapat peraturan perundang-undangan yang menyatakan bahwa radikal termasuk perbuatan yang dapat dipidana,” pungkas Chandra.

Sebelumnya Kemenag sudah menyampaikan klarifikasi soal pernyataan Menag Fachrul Razi tentang penyebaran radikalisme melalui orang berpenampilan menarik alias good looking.

Dirjen Bimas Islam Kemenag, Kamaruddin Amin,”Jadi pernyataan Pak Menag soal good looking itu hanya ilustrasi,” ujar Kamarudin di Jakarta, Jumat (4/9) lalu. [fjr]