-->

Breaking

logo

September 14, 2020

Syekh Ali Jaber Ditikam, DPR Kritik Intel Polri Tak Maksimal

Syekh Ali Jaber Ditikam, DPR Kritik Intel Polri Tak Maksimal

NUSAWARTA - Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PAN Sarifuddin Sudding menyoroti insiden penusukan terhadap Syekh Ali Jaber saat berceramah di Lampung, Minggu (13/9). Menurutnya, peran intelijen Polri yang tidak maksimal.

Dia mengatakan intelijen digunakan untuk mengantisipasi dan melakukan deteksi dini sehingga dapat mencegah peristiwa penikaman Syekh Ali Jaber.

"Sama halnya kemarin terjadi penusukan terhadap ustaz Ali Jaber, seharusnya ketika peran intelijen ini dimaksimalkan saya kira tidak mungkin terjadi hal seperti itu," kata Sudding dalam rapat dengan pendapat (RDP) bersama Polri di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (14/9).

Sudding menyampaikan kritik tersebut kepada Wakil Kepala Kepolisian RI Komisaris Jenderal Gatot Eddy Pramono usai memberikan pemaparan terkait kebutuhan anggaran Polri pada 2021 mendatang.

Menurut Sudding, peran intelijen akan menjadi penting apalagi menjelang Pilkada Serentak 2020 yang akan digelar 9 Desember 2020. Menurutnya, pencegahan terhadap eskalasi yang akan terjadi dapat dimitigasi oleh intelijen.

"Pilkada 2020 ini sangat menjadi pertaruhan, apalagi dalam kondisi negara kita saat ini," ujar Sudding.

Syekh Ali Jaber diserang saat sedang mengisi tausiah berjudul "Memperbaiki Hati". Acara itu berlangsung mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB.

Sekitar 15 menit kegiatan berjalan, Syekh AliJaber kemudian melakukan interaksi dengan para jemaah yang hadir. Dia bahkan sempat ingin meminjam ponsel untuk digunakan berfoto. Di momen itulah, seorang laki-laki tak dikenal tiba-tiba menghampiri dari sisi kanan dan mencoba menusuknya.

Melalui video yang diunggahnya di Youtube, Ali mengatakan bahwa dirinya sempat mengangkat tangan ke dekat leher dan tangan. Menurutnya, tusukan yang ia terima saat itu cukup kuat dan keras. Kendati demikian, ia bersyukur bahwa tusukan itu tidak terkena lehernya, melainkan terkena di tangannya saja.

"Dan alhamdulillah di tangan bukan di leher, sampai patah pisaunya, saya sendiri yang lepaskan pisaunya dan sudah patah di dalam saya keluarkan," tuturnya.

Penyerangan terhadap pendakwah itu pun mendapat kecaman dari berbagai pihak. Bahkan, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD meminta aparat keamanan di Lampung membongkar jaringan dan motif pelaku penusukan.

Hingga saat ini, motif pelaku memang masih buram. Kepolisian mengatakan bahwa tersangka mengalami halusinasi visual terhadap Ali Jaber. Namun, polisi masih melakukan pendalaman dalam kasus tersebut.

Motif pelaku menyerang dai kondang itu pun, menurut penyidik masih dianggap tidak logis. [cnn]