-->

Breaking

logo

September 7, 2020

Tak Terima Deklarasi KAMI Jabar Terus Dihalangi, Masa Geruduk Gedung Sate

Tak Terima Deklarasi KAMI Jabar Terus Dihalangi, Masa Geruduk Gedung Sate

NUSAWARTA - Deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) M Sa’dun Masyhur menilai penolakan deklarasi KAMI Jabar di Bandung sangat tidak fair.

Pasalnya, gerakan yang diinisiasi Din Syamsuddin dan Gatot Nurmantyo cs itu bukan gerakan makar, melainkan gerakan moral.

Demikian disampaikan M Sa’dun Masyhur dalam kanal Youtube Hersubeno yang diunggah, Senin (7/9/2020).

“Kami tidak tahu kenapa KAMI ditakuti,” ujarnya.

Ia menduga bahwa ada pihak tertentu yang terganggu dengan keberadaan KAMI.

“Mungkin ada pihak yang merasa terganggu tetapi yang jelas upaya yang dilakukan KAMI adalah konstruktif,” katanya.

Masyhur menegaskan, KAMI selama ini sama sekali tidak memiliki niat mengganggu pemerintahan.

Bahkan sejak awal pembentukan KAMI, katanya, visi misi yang diusung adalah kemajemukan bangsa.

Karena itu, sambungnya, tidak ada kekuatan dominan dalam KAMI.

Mulai dari struktur, kemudian dibentuk presidium, residium dan komite-komite.

Semua bekerja secara bersama-sama dari seluruh kekuatan komponen bangsa.

“Tidak ada yang membedakan berdasarkan agama, ras dan lainnya,” ujarnya.

Masyhur pun berpesan kepada pihak-pihak yang merasa terganggu dengan gerakan KAMI, agar mengundang KAMI untuk berdialog.

Sebab, untuk menyelesaikan persoalan bangsa ini harus dilakukan bersama-sama, bukan dengan tindakan represif dan menekan.

Akan tetapi, Masyhur sama sekali tak menyebut pihak yang dimaksudnya itu.

“Ingat, bangsa ini bukan milik satu golongan. Bangsa ini bukan milik pemerintah yang saat ini berkuasa,” tutur dia.

“Pemerintahan tanpa rakyat tidak ada artinya dan kalau rakyat marah kondisi akan lebih berbahaya,” tegasnya.

Atas penolakan ini, ia memastikan bahwa KAMI tidak akan tinggal diam dan akan menggelar aksi demonstrasi dan lain-lain.

“Hari ini KAMI aksi di Gedung Sate, mau pertanyakan kepada Pemprov Jawa Barat kenapa Deklarasi KAMI di Bandung dihalang-halangi,” katanya.

Masyhur menuding, ada kekuatan besar yang berusaha menghalangi deklrasi KAMI Jabar dengan menekan hotel-hotel di Bandung agar tak menerima deklarasi dimaksud.

“Ada kekuatan besar di balik pembatalan sepihak oleh Manajemen Hotel Grand Pasundan terhadap acara KAMI yang harusnya digelar Senin, 7 September,” katanya.

Ia menyebut, awalnya, deklarasi KAMI Jabar akan digelar di salah satu hotel di Bandung. Akan tetapi, pihak manajemen hotel tidak mau menerima kegiatan tersebut.

Pihaknya lantas memutuskan memindahkan deklarasi ke Hotel Grand Pasundan.

“Panitia sudah menceritakan kalau hotel pertama menolak, Grand Pasundan tetap menerima dengan melakukan sesuai protokol kesehatan,” terangnya.

Akan tetapi, manajemen hotel Grand Pasundan, katanya, akhirnya mendadak membatalkan secara sepihak.

“Tiba-tiba Hotel Grand Pasundan membatalkan secara sepihak dan mengunci ruangan ini sejak Minggu (6/9) sore,” ujar dia.

Masyhur menyebut, keputusan manajemen hotel itu lantaran ada kekuatan besar yang membuat mereka terpaksa menolak digunakan untuk deklarasi KAMI.

“Sangat disayangkan kenapa deklarasi KAMI ditakuti sampai berusaha menghalau kegiatan KAMI,” katanya.

“KAMI ini bukan ormas atau berniat jadi parpol. KAMI adalah gerakan moral,” tegasnya.

Walaupun dua hotel tidak menerima deklarasi KAMI, kegiatan tetap berlangsung dengan memindahkan ke rumah salah satu deklarator.

Dia menegaskan, makin ditolak KAMI kian semangat untuk membela kepentingan rakyat.

“KAMI tidak hanya di Bandung tetapi juga di wilayah lain termasuk diaspora di luar New York, WNI di Arab Saudi,”“Ini adalah gerakan moral dan bukan makar jadi tidak perlu ditakuti oleh kekuatan besar itu,” pungkasnya. [pjst]