-->

Breaking

logo

September 14, 2020

Wajar Erdogan Ngamuk, Rupanya Presiden Prancis Suruh...

Wajar Erdogan Ngamuk, Rupanya Presiden Prancis Suruh...

NUSAWARTA - Sebuah fakta baru terungkap dalam konflik maritim yang terjadi di Laut Mediterinia timur. Ternyata ada pihak ketiga yang sangat menginginkan pecah perang antara Turki dengan Yunani. Siapakah dia?

Kemunculan pihak ketiga yang berusaha memancing Turki dan Yunani berperang itu diungkapkan Panglima Turki yang kini menjabat Menteri Pertahanan, Jenderal Hulusi Akar.

Dalam siaran resminya, Senin (14/9/2020), Jenderal Akar mengungkapkan, pihak ketiga itu adalah Presiden Emmanuel Macron

Menurut Jenderal Akar, Emmanuel Macron terus memprovokasi dan mengarahkan Yunani untuk segera angkat senjata menggempur Turki. Bahkan, Prancis mengirim pasukan secara rahasia dalam sebuah latihan perang yang digelar Yunani.

"Ada provokasi terutama di bawah kepemimpinan Macron. Setiap kali Yunani diprovokasi, diarahkan, didorong untuk mengangkat senjata, dan dikirim ke beberapa latihan yang tidak direncanakan," kata Jenderal Akar.

Dan karena alasan inilah ternyata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan marah dan menyatakan siap perang.

Sebelum fakta ini diungkapkan, Jenderal Akar telah beberapa kali mengultimatum Prancis dan negara manapun yang berniat bersekutu dengan Yunani untuk memerangi Turki.

"Ada orang yang datang dari ribuan kilometer dan mencoba menggertak, membuat klaim, untuk bertindak sebagai malaikat pelindung. Ini tidak bisa diterima. Mereka datang dan pergi saat mereka datang," katanya dalam siaran resmi Kementerian Pertahanan Turki pada Jumat 4 September 2020.

Ancaman Jenderal Akar ini sepertinya bukan bualan belaka, terbuka Turki memang telah menyiapkan Pusat Operasi Udara Terpadu. Tempat ini merupakan pusat komando tempur dan pusat pemantauan keamanan seluruh wilayah Turki termasuk perairan Laut Mediterania timur.

Bahkan, Jenderal Akar telah mengumpulkan semua panglima perang semua angkatan di tempati itu. Mulai dari Kepala Staf Umum, Jenderal Yasar Guler; Panglima Angkatan Darat, Jenderal Umit Dundar; Komandan Angkatan Laut, Laksamana Adnan Ozbal; dan Komandan Angkatan Udara, Jenderal Hasan Kucukakyuz.

Akar mengatakan, Prancis sama sekali tidak punya urusan dengan Turki dan Yunani. Dan Prancis harus tahu diri, sebab Prancis bukan negara yang ditunjuk Uni Eropa untuk menuntaskan sengketa Laut Mediterania timur.

Baginya kehadiran Prancis dalam sengketa itu cuma sebagai pihak yang menebar ancaman tak berdasar kepada Turki, dengan mendukung Yunani dalam mempertahankan kesalahan terkait batas wilayah maritim di Mediterania.

Untuk diketahui, sebelumnya Prancis menebar ancaman kepada Turki terkait sengketa di Laut Mediterania timur. Prancis mendadak berencana mengerahkan armada perang laut besar-besaran ke perairan tersebut untuk mendukung militer Yunani.

Tak tanggung-tanggung, Prancis berencana mengirimkan kapal induk nuklir andalannya, Charles de Gaulle dan serombongan kapal perang lainnya lengkap dengan jet-jet tempur dan helikopter serbu.

Kapal induk bertenaga nuklir terbesar di Eropa Barat itu disebutkan akan diberangkatkan dari Pelabuhan Toulon. Digambarkan rombongan pasukan militer Prancis itu bergerak dalam posisi siap tempur.

Pengerahan pasukan Angkatan Laut Prancis ke Mediterania timur dipicu ancaman perang yang dilontarkan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan kepada Prancis dan Yunani.

Erdogan telah menyatakan siap menumpahkan darah dan berkorban nyawa untuk mempertahankan hak kedaulatan wilayah maritim di Laut Mediterania timur.

Erdogan bahkan dengan tegas menyatakan tak takut berperang melawan negara manapun di Mediterania timur termasuk Yunani dan Prancis yang bersekutu.

Prancis sebenarnya bukan pihak langsung yang terlibat dalam sengketa maritim di Laut Mediterania timur. Yang bersengketa sebenarnya Turki dan Yunani. Hanya saja Prancis menilai Turki bersalah dengan melakukan kegiatan seismik di perairan itu. Malah Prancis mengirimkan jet tempur ke Yunani untuk membantu memerangi Turki.

Situasi di Laut Mediterania timur memanas setelah Turki memindahkan pasukannya dari Laut Hitam ke perairan itu. Pemicunya, Turki marah besar atas perjanjian batas maritim yang secara sepihak disepakati Yunani dan Mesir.

Turki tak terima dengan hasil kesepakatan dalam perjanjian yang dibuat Yunani dan Mesir. Sebab, sebelum ada perjanjian itu, Turki sempat meredakan ketegangan di Mediterania dengan menunda eksplorasi survei seismik yang digagas Stasiun Antalya Navtex di selatan dan timur Pulau Kastellorizo Yunani.

Turki menunda semua aktivitas seismik untuk menghargai penolakan yang dilayangkan Yunani terkati Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Namun setelah Yunani dan Mesir menandatangani perjanjian ZEE, Turki juga nekat melanjutkan survei dengan kembali melayarkan Kapal Oruc Reis dengan dikawal kapal-kapal perang. [viva]