-->

Breaking

logo

September 12, 2020

Warga di Sikka Komsumsi Ubi Beracun, Ini Penyebabnya

Warga di Sikka Komsumsi Ubi Beracun, Ini Penyebabnya

NUSAWARTA - Sejak bulan Agustus 2020, sebanyak 27 Kepala Keluarga (KK) di Desa Done, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai mengkonsumsi ubi hutan beracun atau Ondo dalam bahasa Lio.

Dilansir Mongabay, Sabtu, (12/9/2020) hal ini dilakukan lantaran adanya dampak kekeringan dan gagal panen. Warga mengaku terpaksa mengkonsumsinya karena persediaan bahan pangan seperti padi dan jagung menipis.

Ketua RT 10 RW 04, Desa Done, Kecamatan Magepanda, Petrus Nanga, Kamis (10/9/2020) mengatakan sebanyak 25 KK dari total 59 KK di RT-nya, Dusun Ladubewa dan 2 KK di Dusun Watuwa telah mengkonsumsi Ondo. Warga lainnya pun terancam mengkonsumsi juga karena persediaan bahan makanan menipis.

“Tahun ini kami mengalami gagal panen karena adanya kekeringan sehingga padi ladang dan jagung banyak yang rusak. Sekarang sudah banyak orang mau gali untuk makan karena persediaan bahan makanan sudah menipis,” ungkapnya.

Petrus mengaku mengkonsumsi Ondo merupakan pilihan terakhir apabila tidak ada bahan pangan lagi yang dikonsumsi. Ondo sebutnya, bisa dimakan tetapi racunnya harus dibuang dulu.

Hal ini dibenarkan Direktur Wahana Tani Mandiri, Carolus Winfridus Keupung yang mengaku pihaknya secara tidak sengaja menemukan kenyataan tersebut saat turun ke desa-desa melakukan penelitian termasuk ke Desa Done, Sabtu (5/9/2020).

Win sapaannya mengatakan, penelitian bekerjasama dengan Inobu yang dilakukan terkait ‘Dampak dan Adaptasi Perubahan Iklim’ serta penelitian ‘Perlindungan Sumber Daya Air’.

“Kami lakukan kegiatan ini di beberapa desa dan kelurahan di Kabupaten Sikka dengan narasumber diantaranya kelompok tani dan petani. Setelah menemukannya kenyataan ini, kami pun memberikan bantuan beras 27 karung,” ucapnya.

Dia menjelaskan sudah hampir dua tahun ini dengan perubahan cuaca yang tidak menentu, para petani mengalami gagal panen. Akibatnya di tahun 2020 ini para petani tersebut kehabisan ketersediaan pangan.

“Kami akan melakukan pendampingan kepada petani terkait pola bertani saat perubahan iklim. Selain itu kami juga akan melakukan pengembangan ternak di kelompok tani agar ada cadangan dana saat hasil pertanian mengalami gagal panen,” sebutnya.

Terkait hal ini, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Sikka Kristianus Amstrong membantah hal ini.

Menurut Kristianus, ada dua warga yang menderita penyakit diabetes sehingga mengkonsumsi ubi beracun. Sementara warga lainnya ia sebutkan hanya ikut-ikutan mengkonsumsi saja.

“Ada keluarga dari PPL Pertanian juga mengkonsumsi Ondo tapi hanya mau senang-senang makan saja, bukan rawan pangan. Karena ada yang makan maka yang lain ikut-ikutan makan,” ungkapnya, Kamis (10/9/2020).

Amstrong tegaskan memakan Ondo bukan berarti warga tidak ada stok pangan sebab stok beras mereka ada dan selama ini sering dapat bantuan.

Untuk diketahui, di Kabupaten Sikka, kejadian ini merupakan kasus kedua dalam tiga tahun terakhir. Sebelumnya, 16 KK di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, sejak bulan Agustus 2017 mulai mengkonsumsi ubi hutan beracun. [jco]