-->

Breaking

logo

September 6, 2020

WHO Pesimistis, Kami Disini Mencoba Selalu Optimis

WHO Pesimistis, Kami Disini Mencoba Selalu Optimis

NUSAWARTA - Indonesia bersama perusahaan asal China, Sinovac, terus merampungkan uji klinis vaksin Corona. Kalau berhasil, mulai awal tahun 2021, vaksin tersebut akan disuntikkan ke masyarakat. Namun, harapan ini dipatahkan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Katanya, vaksin tidak akan tersedia hingga pertengahan 2021, termasuk vaksin asal China. Pak Jokowi, gimana ini? 

Pernyataan WHO ini disampaikan di tengah antusiasme dunia berlomba-lomba menciptakan vaksin. Termasuk Indonesia yang menggandeng perusahaan farmasi asal China untuk membuat vaksin. Bahkan, Presiden Jokowi optimis, mulai awal tahun 2021, vaksin Corona sudah bisa diberikan pada masyarakat secara bertahap. 

Jubir WHO, Margaret Harris, menegaskan, pernyataan itu didasari pada fakta, sejauh ini belum ada satupun dari kandidat vaksin dalam uji klinis lanjutan yang menunjukkan “sinyal jelas”, yakni kemanjuran pada tingkat setidaknya 50 persen, sesuai standar WHO. “Kami tidak yakin akan ada vaksinasi massal hingga pertengahan tahun depan,” ujar Harris dalam konferensi pers virtual di Jenewa, Jumat (4/9) seperti dilansir AFP. 

Hingga kini, ada 34 kandidat vaksin di seluruh dunia dalam berbagai tahap uji klinis pada manusia. Di samping itu juga, terdapat 142 kandidat vaksin yang masih dalam evaluasi praklinis. Sementara, tahap 3 vaksin Corona biasanya memakan waktu lebih lama. Sebab, perlu melihat seberapa protektif vaksin tersebut, serta tingkat keamanannya di tubuh manusia. 

Harris menyebut, semua data dari uji coba harus dibagikan dan dibandingkan. “Banyak orang telah divaksinasi dan yang tidak kami ketahui adalah apakah vaksin itu bekerja. Pada tahap ini, kami tidak memiliki sinyal yang jelas, apakah memiliki tingkat kemanjuran dan keamanan yang bermanfaat,” bebernya. 

Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 dan Bio Farma tak terganggu dengan pernyataan WHO. Bio Farma selaku BUMN yang ditunjuk pemerintah dalam proyek kerjasama dengan Sinovac, masih optimis vaksin Corona bakal tersedia di Indonesia pada 2021. “Kita tetap optimis di atas 90 persen berhasil, kalau tidak, nanti kita terjebak di pandemi terus,” ujar Corporate Secretary Bio Farma Bambang Heriyanto, kemarin. 

Menurut dia, akhir Januari 2021 diharapkan hasil penelitian vaksin sudah kelihatan. Bambang menyatakan, tahap uji klinis vaksin sudah masuk fase III. Tahap ini dinilainya punya tingkat risiko kegagalan rendah. Dia berkaca pada pengalaman Biofarma saat dulu mengembangkan vaksin hepatitis. “Tingkat kegagalannya kecil, di bawah 10 persen,” imbuhnya. 

Selain itu, Bambang juga yakin pada 2021 nanti, bukan cuma Indonesia yang akan punya vaksin. Akan ada banyak pengadaan vaksin yang dilakukan oleh berbagai negara di seluruh dunia. 

Setali tiga uang, Juru Bicara Satgas Covid-19, Prof Wiku Adisasmito juga menyatakan optimis uji klinis tahap III pengadaan vaksin Virus Corona hasil kerjasama dengan Sinovac bakal berhasil. Dengan begitu, vaksin bisa diproduksi di Indonesia pada 2021. “Kita optimis vaksin mampu dikembangkan dengan baik di laboratorium dan uji klinis sudah berjalan hingga fase ketiga,” tuturnya. 

Menurut dia, sah-sah saja WHO memprediksi vaksin akan mundur dari waktu yang sudah dijadwalkan. Menurutnya, tidak mungkin menyiapkan lima miliar vaksin bagi penduduk dunia secara langsung. Ada kendala. Yakni, kapasitas dan ruang produksi. “Itu suatu dinamika yang seluruh dunia mengalami hal yang sama,” imbuhnya. 

Wiku menyebut, saat ini seluruh dunia tengah berlomba-lomba mengembangkan vaksin, baik sebagai produsen maupun melalui kerjasama beberapa negara sekaligus. Karena itu, kalaupun uji klinis tahap tiga vaksin Corona gagal, pemerintah akan terus berupaya mencari opsi lain agar bisa segera melakukan vaksinasi. [rmco]